Games Level 3 Day#1

Day#1
GamesLevel#3
IbuProfesional
BundaSayang

Bismillahirrahmaanirrahiiim…

Prepare setelah vakum selama sekian pekan, memang harus dicambuk rasa “blunder” ini. Karena seperti berkutat dalam rutinitas. Alhamdulillah semalam sudah saya buka kembali diskusi mengenai bagaimana project keluarga kami kepada sang komandan a.k.a suami. Walaupun kami sebenarnya masih konsen untuk menuntaskan Toilet Training si kembar yang belum tuntas2. #kibasdasterbauompol. Namun apa iya mau berlama-lama dengan “games level lalu”? Bismillah kami ajak anak-anak untuk membereskan perpus kecil kami.

Alhamdulillah salah satu se-kufu kami (saya dan suami) adalah pecinta baca buku. Alhasil ketika setelah ijab kabul, salah satu misi kami adalah menciptakan rumah baca, setidaknya untuk keluarga kami dulu. Dan setahun pertama alhamdulillah kami sudah punya pojok cinta buku di ruang tamu. Disana kami membuat sebuah rak buku sederhana dan mengisinya dengan koleksi buku kami. Namun, saat Mbak Fa beranjak besar dan ditambah kehadiran si kembar, perpus kami seolah dikucilkan. Kami masih suka membaca tapi tidak seimbang dengan merapikannya. Hahaha… Awalnya kami susun berdasarkan kategori konten buku, namun sekarang bercampur antara buku tahsin dengan siroh, ada juga Al Qur’an anak-anak terselip diantara set Hallo Balita. Hihihi…

So, inilah project keluarga kami selama sepekan ke depan.

Job description:: My Fun Library, My Smart Fams
(Membuka jendela dunia dari perpustakaan keluarga)

Manager:: Abuya

Juru ketik:: Umma

Juru menempel label:: Athifah

Juru meletakkan sesuai instruksi manager:: Fayra

Juru mengelap bagian dalam rak buku:: Rayfa

Juru Wira Wiri, perkap, konsumsi:: Umma

Jadwal:: 17 Agustus 2017, bersambung Senin (21 Agustus 2017, karena Umma Abuya mau belajar bekam dulu sabtu-ahad).

Target:: 26 Agustus 2017

Waktu pelaksanaan:: siap Upacara HUT RI; kalau weekday ya sore hari jam5an.

Bismillah..

Mari Nak kita bersemangat!!!!

_Umma Fayala_

16082017

 

 

Iklan

Tantangan Kemandirian Anak_Report_day2

Allohu Akbar, subhanalloh! Kalian sudah besar kini.

Ondeee mbak Iffah, betapa akselerasimu membuat Ummi harus ekstra tertatih belajar belajar dan belajar lagi. Belajar lebih sabar, belajar menyusun kalimat. Seperti kakak-kakak yang baru 2 hari duduk di kelas 1 SD. Tapi bedanya ini menyusun kalimat supaya ringan dan lugas. Sederhana dan logic. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah…

Ups, ini late report-b.a.n.g.e.t… karena tantangan sudah berjalan sejak tanggal 13 Juli 2017 dan malam ini kita terpisah jarak Nak… Kita belajar dalam kejauhan. Kita saling menyemangati via telpon dan Ummi hanya menanyakan secara lisan saja kepada kalian maupun budhe. Sabar ya Nak… Kita sedang sama-sama merayu Alloh untuk ridlo pada kita. Adek tau, kalau Alloh sudah ridlo maka semua menjadi indah. Sudah cukup. Karena ketika Alloh ridlo maka adek akan digiring selalu pada kebaikan. Alloh limpahkan rahmat dan hidayah sepanjang langkah hidup kita. Dan kelak,, ada pintu Firdaus yang menanti kita memasukinya. Bercengkerama dan makan coklat kesukaan adek sambil mimik Air dari Telaga Al Kautsar. Atau adek mau mimi susu dari mata air Salsabila? Alloooooh…. itu pasti indaaaaah sekali. Sampai terlalu picik jika Ummi membandingkannya dengan pikiran duniawi. Karena kenikmatan yang tak berujung dan selalu dalam keselamatan itu adalah impian kita Nak. Makanya, apapun takdir Alloh pada kita saat ini, nikmati jalani dan sempurnakan dengan lillah billah minalloh…

Alhamdulillah Athifah yang kreatif selalu ingat dan mengingatkan budhe untuk mengisi tabel PR Ummi. Ya, sebenarnya itu PR Ummi namun sementara didelegasikan karena dinas luar kota ini. Hiks… Maaf ya Nak.. Sepengamatan Ummi melalui budhe, kalian sudah 90% kooperatif dan PR selanjutnya konsisten sampai 10 hari tantangan ini. Semoga saat final, Iyya Iyyo sudah bisa lulus TT. Aamiiin…

Tapi ada yang salah tadi siang saat Ummi telpon dek Iyya.

“Ummi…iyya tadi eek di celana”

Dubrag!

“oh iya Nak? Kok gitu? Adek kelupaan?”

“Adek kebelet sekali Mi”.

Deg… saya salah ucap! Kenapa malah men-judge dia lupa? Astaghfirulloh… semoga Engkau cabut ucapan saya tadi ya Alloh. Maafkan Ummi ya dek Iyya… Semoga Adek jadi penghafal qur’an yang kuat ingatannya.

Selanjutnya kami menanyakan kabar Athifah. Hari ini mbak cerita kalau mbak bikin ayunan dari kain sarung pakdhe. Alhamdulillah… Wah Ummi pengen diayun juga sama ayunan mbak Fa…

Fayra belum ada kabar… Hiks… Ummi kangeeen. Telpon Ummi gak diangkat sama budhe Kas (pengasuh Iyyo). Iyyo baik-baik ya… Semoga Alloh selalu menjagamu dengan perlindungan terbaik. Sampai ketemu di hari Kamis Nak… Ummi sayang kalian karena Alloh SWT… :3

_Ummu Fayala_

Catatan Tantangan Kemandirian Anak. Alhamdulillah. Anak-anak makin paham amanah ortunya di ranah publik. Semoga ini mengarah ke perubahan positif. Semoga mereka juga menilai semua ini memang karena kita sedang mendekat pada Alloh SWT

Games level-2 Melatih kemandirian anak (day 1)

 

Alhamdulillahi wa kafa washolatu wasalamu ‘ala ashrofil mustofa wa’ala alihi washohbihi waman wafa.

PAgi dini hari anak2 sholihah.. Di catatan PR Ummi di games tantangan ke-2 IIP ini (harusnya sih PR kehidupan di jenjang usia kalian sekarang) Ummi bikinnya cerita untuk masa depan aja deh. Supaya suatu saat kalian bisa membaca maka bisa Ummi tunjukkan ke kalian bagaimana proses kita belajar bersama. Supaya kelak cucu-cucu Ummi bisa lebih baik lagi dalam belajar bersama kalian. Wah, Ummi ini kok jauh sekali.. iya Nak, karena dalam games kali ini tujuannya pun gak untuk jangka pendek. Tapi untuk persiapan sesuatu yang pasti yaitu kematian.

Ummi selipkan doa dalam games kali ini:: semoga kelak Ummi meninggal maka kalian sudah menjadi anak yang mandiri dan merdeka. Jadilah anak-anak yang bermanfaat bagi orang lain. Seminimalnya jangan merepotkan orang lain.

Meski ini berat Nak. Karena apa? Ummi masih ingin memuaskan rasa memanjakan kalian. Ingin tetap menyuapi kalian, becanda sambil menggosokkan gigi kalian, bercerita sambil memakaikan baju selepas mandi. Masa2 itu terlalu cepat berlalu. Kini kalian sudah perlahan harus bisa mandiri. Bukan karena Ummi jahat. Tapi demi kebaikan kalian. Karena cita-cita akan terwujud dari usaha yang tekun,konsisten dan sedini mungkin. Tentunya sesuai dengan perkembangan usia kalian. Dan melalui IIP ini kita belajar ya Nak. Semoga Alloh ridlo.. aamiin :*

UmmaFayala

Catatan hari1_games level2:: fayra masih gak suka budhenya ikutan mencatat di lembar belajar. Krn si budhe menyampaikannya bahwa ini ada PR supaya dedek gak ngompol. Alhasil malah ngambek dan maunya sengaja pipis di celana.

Rayfa.. sepertinya Ummi harus meningkatkan level mandiri kakak ray deh. Krn kak rayfa kan sdh lulus TT. Ummi akan memikirkan lagi untuk level mandiri kakak selepas Ummi dinas luar ya Nak. Skrg fokus ke point lainnya seperti makan gak disuapin dan pakai baju sendiri. Hehe

Mbak Fa:: alhamdulillah sama dengan Rayfa. Untuk semangat di games ini sangat bagus responnya. Tapi untuk bebenah tempat tidur setelah bangun itu masih harus motivasi lebih. Kalau pagi dan bangun dengan kondisi “on” bisa diajak bebenah kasur. Tapi ketika siang hari dengan budhe masih belum semangat. Ayo Mbaaak… kamu pasti bisa!!!

Baarokallohu fiikum anak-anak..

Really? Thats i’m responsible for communication?

IMG-20170624-WA0002Alhamdulillah games level 1 di IIP Bunda Sayang sudah terselesaikan selama tantangan 10 hari. 10 hari berkomunikasi produktif berasa nano nano. Bagaimana tidak? Meski seabreg buku parenting dilahap, seminar kulwap diikuti, bahkan segala fasilitas pendukung disediakan untuk bercengkerama dengan tiga buah hati, semua tak akan cukup untuk menciptakan komikasi produktif jika kunci satu tak dikuasai. Apa itu? Kendali emosi dan kesabaran.

Tiga anak tiga potensi tiga sifat, segudang kebaikan, berlimpah pahala.

Saya selalu terngiang bagaimana Alloh mempertemukan kami dengan IIP. Dahulu ketika hamil Athifah, saya sangat ingin resign ketika membaca profil bu Septi. Keinginan itu memuncak saat si kembar lahir. Bagaimana saya merasa berdosa saat linangan bahkan teriakan anak-anak melepas kepergian saya hendak ke kantor. Sesak sekali rasa di hati. Namun suami selalu mengatakan, syukuri saja, nikmati prosesnya. Yakinkan Abi kalau Ummi sanggup di rumah full time mother.

Waktu pun berjalan. Sampai saya berkesempatan mendaftar matrikulasi IIP Padang. Diberi peluang mengasah potensi dan introspeksi diri di program Bunda Sayang ini. Saya menyadari bahwa amanah menjadi ibu itu berat. Seberat tanggung jawab menjadi madrastul ula bagi anak-anak. Seiring kecerdasan anak-anak berkembang, kreatifitas yang makin optimal apalagi ketika mereka bertiga berkolaborasi. Yuhuyy.. saya semakin minder untuk 100% menjadi FTM. Karena modal emosi, kreatifitas dan kesabaran seorang FTM haruslah maksimal. Namun cita-cita itu belumlah pupus. Semakin saya belajar di IIP terutama di kelas Bunsay ini saya tersadar bahwa ini proses panjang dan haruslah optimis. Jika suatu saat nanti ketika Alloh memberikan kesempatan untuk menjadi FTM maka saya harus sudah siap. Siap lahir dan batin, mental dan material. Karena di kelas ini, kalau saya katakan, kita digembleng oleh diri sendiri untuk belajar. Belajar mengelola diri. Khususnya di level 1 ini belajar komunikasi produktif. Masalah krusial diri saya. Yang kata suami suka bersayap kalau bicara. Wkwkwk.

Melalui komprod saya belajar menghadapi suami dan anak-anak sesuai karakter dan situasi yang tepat. Dari komprod saya belajar menundukkan nafsu saya. Melalui komprod saya berharap kelak anak-anak bisa menjadikan saya tempat curhatnya yang pertama, utama dan satu-satunya setelah Alloh SWT.

Terimakasih tim fasil IIP. Semoga segala bantuan bunda sekalian mendapat balasan yang lebih indah dan mnjadi amal jariah. Aamiin..

Thats right! I’m ready to continue the next level!

_UmmuFayala_

#SmartfamilyisRobbanifamily

#KomunikasiProduktif

#Aliranrasakomprod

#Mengalirlahrasa

#IipBunsaySumatera2

Tantangan hari ke-10

Bismillah…

Hari ke-10 di tanggal 12 Juni 2017. Sebenarnya kemarin itu sedang agak menurun semangat menulis. Selain itu ahad, saya sedang ada amanah menjadi seksi wara wiri di agenda SEBARAN SALIMAH (Sehari Basamo Al qur’an dg Salimah). Niatnya sih membuat acara mukhoyyam qur’an dg sasaran ibu2 majelis taklim. Jd kami buat familiar namanya Sebaran.

Hari ahad yg melelahkan namun memuaskan. Karena saya merasakan waktu saya padat bermakna. Memang benar kata ustadz, jika kita tdk menyibukkan diri dengan hal yang thoyyib maka kita akan disibukkan oleh hal2 mubah bahkan syubhat. Na’udzubillah, jauhkan kami dari hal2 yg merugi.

Kelelahan di hari ahad berlanjut di Senin. Dimana kami para DWP BPS Solsel diminta menyiapkan santapan berbuka bersama di hari yang sama.

KEmarin, Senin 12 Juni, bersama anak-anak dan suami kami menghadiri agenda kantor tersebut. Konsekuensi bukber adalah 1. Sholat tarawih molor; 2. Harus bisa mengoptimalkan good mood anak-anak sebelum tiba masa bad mood-nya. Hahaha..

No1. Fix terjadi karena para ibu2 lainnya sibuk membenahi makanan. Selanjutnya sang ustadz krik.. krik..krik.. karena menanti para makmum wanita yang masih sangat sedikit.

NO.2 juga fix membuat bad mood anak2 tak tertahankan. Teriakan di dalam mushola kantor. Langsung saya tarik, gendong dan peluk sang inovator kehebohan. Yang malam tadi adalah mbak fa. Istighfar dan nafas dalam lumayan membantu meredakan emosi yang sudah sampai ubun-ubun. Huhuhu…

Ini perkara klasik membawa anak di masjid/mushala di indonesia yang belum semuanya ramah anak. Kalau di rumah sih biasa aja sholat dengan mendengar teriakan rengekan anak-anak. Namun kalau di masjid, walau sudah di sounding dan izin dan bahkan dimaklumi, tetap saja rasa seorang ibu kalau anaknya heboh saat orang lagi sholat tentu tak menentu. Lagi-lagi ini proses belajar. Yang dengannya anak-anak semoga selalu terpaut hatinya dengan masjid. Menghidupkan masjid dg amalan sholiha. Menjadi anak yang senang sholat dan mengaji. Aamiin..

Hingga akhirnya pukul 21.50 kami pulang dengan matic vario bersama tiga bocil yg tertidur selama perjalanan.

_Ummu Fayala

#LastChalange

#day10

#level1

#Tantangankomprod

#bunsayiip

Tantangan hari ke-9

Ba’da tahmid washolawat..

Jum’at barokah telah mengakhirkan harinya. Hari ke-14 Ramadhan alhamdulillah mbak Fa lulus sampai azan maghrib. Sebagai apresiasi, kami lanjutkan makan es krimnya yang belum abis kemarin. Qiqiqi…

Tapi Nak, sedikit pemberian kami ini tak sebanding jika kelak kaau istiqomah dalam jalanNya. Maka tak hanya dunia, yang lebih haqiqi, modal untuk kehidupan akhiratpun akan kau dapat. Ya benar, keridloan Alloh. Semoga Alloh meridloimu sayang.. juga adik2 kembar smg kalian kompak dalam berlomba2 beribadah pada Alloh.

Hari ini alhamdulillah dapat terlewati dengan baik. Yang sedikit berbeda adalah suara Rayfa yang maa sya Alloh semakin nyaring dan kalau teriak itu… hmmm… lumayan untuk olahraga pendengaran.

Saat ini selain target menahan hawa nafsu, untuk 3 hari ke depan akan konsentrasi ke pemilihan kata2 yang positif. karena apa? karena si kembar juga semakin pandai berbicara dan makin banyak kosa katanya. Walau sedikit delay drpd progres mbakFa, namun semoga tidak terlambat. Siapa tau kelak justru mereka lebih fasih dalam membaca al qur’an terlebih dahulu dari mbak fa. Smg Alloh memudahkan. Semangat anak2!!! Besok kita menghafalkan al fatihah dan Al Ikhlas dulu ya… smg mbak Fa kooperatif unt bs menjadi kawan talaqqi adik2. Aamiin…

_Ummu fayala

#Day9

#Level1

#Komunikasiproduktif

#Bunsayiip

 

Tantangan hari ke-8

Alhamdulillahi… ba’da tahmid washolawat… Siang yang menggoda untuk selonjor sejenak melepas penat. Setelah menyelesaikan update rumah tangga sebagai salah satu tugas negara, saya segera meluncur ke masjid tempat suami mengisi ceramah sanlat (pesantren ramadhan). Memasuki masjid yang dipenuhi anak-anak SMK N 1 Solok Selatan membuat jiwa muda saya menyeruak. Pas saya datang, suami tengah memutar video dari perwakilan misi medis ACT yang berdakwah di Suriah. Pengalaman urang minang yang menjadi saksi hidup perjuangan muslim di Suriah membuat saya tidak bisa membendung air mata. Bayangkan saja, dalam 1 hari di Ramadhan tahun lalu, ratusan bom menghujani salah satu bagian bumi Syam tersebut. Dan anak-anak masjid di sana, malu-malu mendekati ustadz (muru’ah anak perempuan di Syam seusia 8 tahun sangat tinggi, saat berpapasan dengan laki-laki langsung cari jalan lain), untuk meminta dibawakan mushaf qur’an. Di negeri tersebut mereka kekurangan al qur’an dan sangat bersemangat menghafal dari talaqi gurunya. MasyaaAlloh, bagaimana dengan saya? Usia 27 tahun, sudah beranak pinak, sudah berapa juz yang dihafal? Seperti ini mengharap berjumpa Nabi? Innalillahi… betapa malunya saya dengan mereka, anak-anak gadis seusia 8 tahun yang sangat menjaga izzah Islam. Sebelumnya, saat hendak menjemput suami yang mengisi di SMA N 1 Solok Selatan, dua anak SMA kelas X mendekati saya. Saya yang menunggu di lobi sekolah pun tersenyum dan menyambut mereka. Salah seorangnya berkata, “Kak, boleh bertanya?” “Silakan Dik…” “Kakak kan pakai jilbab dalam (jilbab menutup dada). Kenapa sih kakak mau memakai jilbab seperti ini? Apakah tidak apa jika saat ini kami ingin memakai jilbab dalam namun akhlak kami belum sempurna? Jleb… Saya atur kata sesederhana mungkin. Kemudian saya jelaskan kewajiban berhijab yang sudah sangat jelas di Al qur’an kariim. Sedikit saya lontarkan pertanyaan sebaliknya, bagaimana pendapat dari mereka sendiri. Alhamdulillah nampak raut kepuasan dari wajah mereka. Para ABG yang bersemangat hijrah. Mereka adalah dambaan ummat. Para generasi robbani yang bersemangat belajar. Saya rinduuu lingkungan sekolah, lingkungan dakwah thulaby dan sejenisnya. Dari mereka saya belajar, dari mereka saya berusaha untuk lebih istiqomah, dari mereka saya ber-fastabiqul khoiirot. Terima kasih adik-adik sholihah… *** Intro di atas sangat adem ya rasanya meski di luar matahari menyengat ubun-ubun. Alhamdulillah “adem”nya menular sampai ke rumah. Kami sampai di rumah sekitar pukul 16.00 WIB dan anak-anak baru pulang sekitar 16.30. Seperti biasa, Athifah yang sedang belajar shoum langsung membuka pintu kulkas. “Mbak sudah berbuka kah?”, saya membuka pembicaraan. “Belum Mi. Tadi dek Iyyo makan di depan mbakFa, tapi mbakFa gak minta do…” “Alhamdulillah… Barokallohu fiik Nak… Sekarang mbak kenapa buka pintu kulkas?” “Mbak Fa mau buka sekarang aja Mi. MbakFa kan masih kecil”, aduh mulut mungilnya itu bener-bener menggemaskan. “Wah, sudah mau jam5 sore. Kita berbuka sekitar setengah 7 kurang. Tinggal 2 jam kurang mba.. Sayang mah mbak.. Mbak sehat kan?” “Iya, mbak Fa gak sakit perut do, tapi pengen mamam. Pisang deh Mi… Boleh ya Miii??” desaknya. “Hmm… Ummi Abi baru beli es krim. Kata Abi, es krimnya cuma buat yang berpuasa. Hmm… Ummi mau buat sandwich es krim ah…” “Mbak Fa mau…mau…” langsung lirik freezer. “Eits… mbak katanya mau berbuka?” “Hmm…” mikir dulu dia. “Boleh Mi? Mbak Fa makan es krim sekarang trus nanti puasa lagi sampai maghrib?” Ini nih, jago banget meloby. “Tau gak mba, kalau di syurga kita bebas mau mimi susu, mau makan es krim atau semua kesukaan mbak Fa, sepuasnya, sesukanya… Waaah… Ummi mau ah. Nanti kita masuk bareng-bareng lewat pintu yang baguuuuuuus banget. Dia namanya pintu Ar Rayyan. Cuma buat orang-orang yang puasa mba…” Iffah-pun termangu… “Ya udah deh.. Mbak Fa maem es krimnya nanti malam aja. Tapi dek Iyya-Iyyo gak boleh dikasih. Kan gak puasa.” Wkwkwkwk…. “Mbak Fa, tapi kata Rosululloh, kalau kita sayang sama Adik, nanti makin disayang Alloh juga. Mbak Fa, kalau Alloh udah ridlo, kira-kira gimana?” “Nanti semua yang mbak Fa penginin dikasih ya Mi?” “Iya, sekarang aja Alloh udah kasih mbak Fa banyak hal, iya kan? Mbak Fa mau gak ke syurga rame-rame?” “Mau Ummi….” Semangat kali ini jawabnya. “Kalau gitu berbagi sama adik ya sholihah…” Huhuhu… mengharu biru lagi sama mbak Fa kemarin sore. Semoga Alloh makin menyayangimu mbak Fa juga adik-adik… diberikan keistiqomahan sepanjang hayat dalam Islam dan ridlo Alloh. Dan finally, Iffah berbuka setelah adzan maghrib. Di hari ke-8 dapat kado shoum full dari anak gadis. Semoga selalu sehat, barokah dan selalu bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik ya mba… *** Ini komprod saya di hari ke-8. Belajar mengelola emosi dan mengatur kata-demi-kata supaya merasuk ke kalbu anak-anak. Semoga Alloh mudahkan… Robbishrohlisodri, wayassirliii amri, wahlul’uqdatammillissaanii yafqohu qoulii…

_Ummu Fayala

#Day1 #Level1 #Tantangan #komunikasiproduktif #bunsayiip