Really? Thats i’m responsible for communication?

IMG-20170624-WA0002Alhamdulillah games level 1 di IIP Bunda Sayang sudah terselesaikan selama tantangan 10 hari. 10 hari berkomunikasi produktif berasa nano nano. Bagaimana tidak? Meski seabreg buku parenting dilahap, seminar kulwap diikuti, bahkan segala fasilitas pendukung disediakan untuk bercengkerama dengan tiga buah hati, semua tak akan cukup untuk menciptakan komikasi produktif jika kunci satu tak dikuasai. Apa itu? Kendali emosi dan kesabaran.

Tiga anak tiga potensi tiga sifat, segudang kebaikan, berlimpah pahala.

Saya selalu terngiang bagaimana Alloh mempertemukan kami dengan IIP. Dahulu ketika hamil Athifah, saya sangat ingin resign ketika membaca profil bu Septi. Keinginan itu memuncak saat si kembar lahir. Bagaimana saya merasa berdosa saat linangan bahkan teriakan anak-anak melepas kepergian saya hendak ke kantor. Sesak sekali rasa di hati. Namun suami selalu mengatakan, syukuri saja, nikmati prosesnya. Yakinkan Abi kalau Ummi sanggup di rumah full time mother.

Waktu pun berjalan. Sampai saya berkesempatan mendaftar matrikulasi IIP Padang. Diberi peluang mengasah potensi dan introspeksi diri di program Bunda Sayang ini. Saya menyadari bahwa amanah menjadi ibu itu berat. Seberat tanggung jawab menjadi madrastul ula bagi anak-anak. Seiring kecerdasan anak-anak berkembang, kreatifitas yang makin optimal apalagi ketika mereka bertiga berkolaborasi. Yuhuyy.. saya semakin minder untuk 100% menjadi FTM. Karena modal emosi, kreatifitas dan kesabaran seorang FTM haruslah maksimal. Namun cita-cita itu belumlah pupus. Semakin saya belajar di IIP terutama di kelas Bunsay ini saya tersadar bahwa ini proses panjang dan haruslah optimis. Jika suatu saat nanti ketika Alloh memberikan kesempatan untuk menjadi FTM maka saya harus sudah siap. Siap lahir dan batin, mental dan material. Karena di kelas ini, kalau saya katakan, kita digembleng oleh diri sendiri untuk belajar. Belajar mengelola diri. Khususnya di level 1 ini belajar komunikasi produktif. Masalah krusial diri saya. Yang kata suami suka bersayap kalau bicara. Wkwkwk.

Melalui komprod saya belajar menghadapi suami dan anak-anak sesuai karakter dan situasi yang tepat. Dari komprod saya belajar menundukkan nafsu saya. Melalui komprod saya berharap kelak anak-anak bisa menjadikan saya tempat curhatnya yang pertama, utama dan satu-satunya setelah Alloh SWT.

Terimakasih tim fasil IIP. Semoga segala bantuan bunda sekalian mendapat balasan yang lebih indah dan mnjadi amal jariah. Aamiin..

Thats right! I’m ready to continue the next level!

_UmmuFayala_

#SmartfamilyisRobbanifamily

#KomunikasiProduktif

#Aliranrasakomprod

#Mengalirlahrasa

#IipBunsaySumatera2

Tantangan hari ke-10

Bismillah…

Hari ke-10 di tanggal 12 Juni 2017. Sebenarnya kemarin itu sedang agak menurun semangat menulis. Selain itu ahad, saya sedang ada amanah menjadi seksi wara wiri di agenda SEBARAN SALIMAH (Sehari Basamo Al qur’an dg Salimah). Niatnya sih membuat acara mukhoyyam qur’an dg sasaran ibu2 majelis taklim. Jd kami buat familiar namanya Sebaran.

Hari ahad yg melelahkan namun memuaskan. Karena saya merasakan waktu saya padat bermakna. Memang benar kata ustadz, jika kita tdk menyibukkan diri dengan hal yang thoyyib maka kita akan disibukkan oleh hal2 mubah bahkan syubhat. Na’udzubillah, jauhkan kami dari hal2 yg merugi.

Kelelahan di hari ahad berlanjut di Senin. Dimana kami para DWP BPS Solsel diminta menyiapkan santapan berbuka bersama di hari yang sama.

KEmarin, Senin 12 Juni, bersama anak-anak dan suami kami menghadiri agenda kantor tersebut. Konsekuensi bukber adalah 1. Sholat tarawih molor; 2. Harus bisa mengoptimalkan good mood anak-anak sebelum tiba masa bad mood-nya. Hahaha..

No1. Fix terjadi karena para ibu2 lainnya sibuk membenahi makanan. Selanjutnya sang ustadz krik.. krik..krik.. karena menanti para makmum wanita yang masih sangat sedikit.

NO.2 juga fix membuat bad mood anak2 tak tertahankan. Teriakan di dalam mushola kantor. Langsung saya tarik, gendong dan peluk sang inovator kehebohan. Yang malam tadi adalah mbak fa. Istighfar dan nafas dalam lumayan membantu meredakan emosi yang sudah sampai ubun-ubun. Huhuhu…

Ini perkara klasik membawa anak di masjid/mushala di indonesia yang belum semuanya ramah anak. Kalau di rumah sih biasa aja sholat dengan mendengar teriakan rengekan anak-anak. Namun kalau di masjid, walau sudah di sounding dan izin dan bahkan dimaklumi, tetap saja rasa seorang ibu kalau anaknya heboh saat orang lagi sholat tentu tak menentu. Lagi-lagi ini proses belajar. Yang dengannya anak-anak semoga selalu terpaut hatinya dengan masjid. Menghidupkan masjid dg amalan sholiha. Menjadi anak yang senang sholat dan mengaji. Aamiin..

Hingga akhirnya pukul 21.50 kami pulang dengan matic vario bersama tiga bocil yg tertidur selama perjalanan.

_Ummu Fayala

#LastChalange

#day10

#level1

#Tantangankomprod

#bunsayiip

Tantangan hari ke-9

Ba’da tahmid washolawat..

Jum’at barokah telah mengakhirkan harinya. Hari ke-14 Ramadhan alhamdulillah mbak Fa lulus sampai azan maghrib. Sebagai apresiasi, kami lanjutkan makan es krimnya yang belum abis kemarin. Qiqiqi…

Tapi Nak, sedikit pemberian kami ini tak sebanding jika kelak kaau istiqomah dalam jalanNya. Maka tak hanya dunia, yang lebih haqiqi, modal untuk kehidupan akhiratpun akan kau dapat. Ya benar, keridloan Alloh. Semoga Alloh meridloimu sayang.. juga adik2 kembar smg kalian kompak dalam berlomba2 beribadah pada Alloh.

Hari ini alhamdulillah dapat terlewati dengan baik. Yang sedikit berbeda adalah suara Rayfa yang maa sya Alloh semakin nyaring dan kalau teriak itu… hmmm… lumayan untuk olahraga pendengaran.

Saat ini selain target menahan hawa nafsu, untuk 3 hari ke depan akan konsentrasi ke pemilihan kata2 yang positif. karena apa? karena si kembar juga semakin pandai berbicara dan makin banyak kosa katanya. Walau sedikit delay drpd progres mbakFa, namun semoga tidak terlambat. Siapa tau kelak justru mereka lebih fasih dalam membaca al qur’an terlebih dahulu dari mbak fa. Smg Alloh memudahkan. Semangat anak2!!! Besok kita menghafalkan al fatihah dan Al Ikhlas dulu ya… smg mbak Fa kooperatif unt bs menjadi kawan talaqqi adik2. Aamiin…

_Ummu fayala

#Day9

#Level1

#Komunikasiproduktif

#Bunsayiip

 

Tantangan hari ke-8

Alhamdulillahi… ba’da tahmid washolawat… Siang yang menggoda untuk selonjor sejenak melepas penat. Setelah menyelesaikan update rumah tangga sebagai salah satu tugas negara, saya segera meluncur ke masjid tempat suami mengisi ceramah sanlat (pesantren ramadhan). Memasuki masjid yang dipenuhi anak-anak SMK N 1 Solok Selatan membuat jiwa muda saya menyeruak. Pas saya datang, suami tengah memutar video dari perwakilan misi medis ACT yang berdakwah di Suriah. Pengalaman urang minang yang menjadi saksi hidup perjuangan muslim di Suriah membuat saya tidak bisa membendung air mata. Bayangkan saja, dalam 1 hari di Ramadhan tahun lalu, ratusan bom menghujani salah satu bagian bumi Syam tersebut. Dan anak-anak masjid di sana, malu-malu mendekati ustadz (muru’ah anak perempuan di Syam seusia 8 tahun sangat tinggi, saat berpapasan dengan laki-laki langsung cari jalan lain), untuk meminta dibawakan mushaf qur’an. Di negeri tersebut mereka kekurangan al qur’an dan sangat bersemangat menghafal dari talaqi gurunya. MasyaaAlloh, bagaimana dengan saya? Usia 27 tahun, sudah beranak pinak, sudah berapa juz yang dihafal? Seperti ini mengharap berjumpa Nabi? Innalillahi… betapa malunya saya dengan mereka, anak-anak gadis seusia 8 tahun yang sangat menjaga izzah Islam. Sebelumnya, saat hendak menjemput suami yang mengisi di SMA N 1 Solok Selatan, dua anak SMA kelas X mendekati saya. Saya yang menunggu di lobi sekolah pun tersenyum dan menyambut mereka. Salah seorangnya berkata, “Kak, boleh bertanya?” “Silakan Dik…” “Kakak kan pakai jilbab dalam (jilbab menutup dada). Kenapa sih kakak mau memakai jilbab seperti ini? Apakah tidak apa jika saat ini kami ingin memakai jilbab dalam namun akhlak kami belum sempurna? Jleb… Saya atur kata sesederhana mungkin. Kemudian saya jelaskan kewajiban berhijab yang sudah sangat jelas di Al qur’an kariim. Sedikit saya lontarkan pertanyaan sebaliknya, bagaimana pendapat dari mereka sendiri. Alhamdulillah nampak raut kepuasan dari wajah mereka. Para ABG yang bersemangat hijrah. Mereka adalah dambaan ummat. Para generasi robbani yang bersemangat belajar. Saya rinduuu lingkungan sekolah, lingkungan dakwah thulaby dan sejenisnya. Dari mereka saya belajar, dari mereka saya berusaha untuk lebih istiqomah, dari mereka saya ber-fastabiqul khoiirot. Terima kasih adik-adik sholihah… *** Intro di atas sangat adem ya rasanya meski di luar matahari menyengat ubun-ubun. Alhamdulillah “adem”nya menular sampai ke rumah. Kami sampai di rumah sekitar pukul 16.00 WIB dan anak-anak baru pulang sekitar 16.30. Seperti biasa, Athifah yang sedang belajar shoum langsung membuka pintu kulkas. “Mbak sudah berbuka kah?”, saya membuka pembicaraan. “Belum Mi. Tadi dek Iyyo makan di depan mbakFa, tapi mbakFa gak minta do…” “Alhamdulillah… Barokallohu fiik Nak… Sekarang mbak kenapa buka pintu kulkas?” “Mbak Fa mau buka sekarang aja Mi. MbakFa kan masih kecil”, aduh mulut mungilnya itu bener-bener menggemaskan. “Wah, sudah mau jam5 sore. Kita berbuka sekitar setengah 7 kurang. Tinggal 2 jam kurang mba.. Sayang mah mbak.. Mbak sehat kan?” “Iya, mbak Fa gak sakit perut do, tapi pengen mamam. Pisang deh Mi… Boleh ya Miii??” desaknya. “Hmm… Ummi Abi baru beli es krim. Kata Abi, es krimnya cuma buat yang berpuasa. Hmm… Ummi mau buat sandwich es krim ah…” “Mbak Fa mau…mau…” langsung lirik freezer. “Eits… mbak katanya mau berbuka?” “Hmm…” mikir dulu dia. “Boleh Mi? Mbak Fa makan es krim sekarang trus nanti puasa lagi sampai maghrib?” Ini nih, jago banget meloby. “Tau gak mba, kalau di syurga kita bebas mau mimi susu, mau makan es krim atau semua kesukaan mbak Fa, sepuasnya, sesukanya… Waaah… Ummi mau ah. Nanti kita masuk bareng-bareng lewat pintu yang baguuuuuuus banget. Dia namanya pintu Ar Rayyan. Cuma buat orang-orang yang puasa mba…” Iffah-pun termangu… “Ya udah deh.. Mbak Fa maem es krimnya nanti malam aja. Tapi dek Iyya-Iyyo gak boleh dikasih. Kan gak puasa.” Wkwkwkwk…. “Mbak Fa, tapi kata Rosululloh, kalau kita sayang sama Adik, nanti makin disayang Alloh juga. Mbak Fa, kalau Alloh udah ridlo, kira-kira gimana?” “Nanti semua yang mbak Fa penginin dikasih ya Mi?” “Iya, sekarang aja Alloh udah kasih mbak Fa banyak hal, iya kan? Mbak Fa mau gak ke syurga rame-rame?” “Mau Ummi….” Semangat kali ini jawabnya. “Kalau gitu berbagi sama adik ya sholihah…” Huhuhu… mengharu biru lagi sama mbak Fa kemarin sore. Semoga Alloh makin menyayangimu mbak Fa juga adik-adik… diberikan keistiqomahan sepanjang hayat dalam Islam dan ridlo Alloh. Dan finally, Iffah berbuka setelah adzan maghrib. Di hari ke-8 dapat kado shoum full dari anak gadis. Semoga selalu sehat, barokah dan selalu bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik ya mba… *** Ini komprod saya di hari ke-8. Belajar mengelola emosi dan mengatur kata-demi-kata supaya merasuk ke kalbu anak-anak. Semoga Alloh mudahkan… Robbishrohlisodri, wayassirliii amri, wahlul’uqdatammillissaanii yafqohu qoulii…

_Ummu Fayala

#Day1 #Level1 #Tantangan #komunikasiproduktif #bunsayiip

Tantangan Hari ke-7

Ups.. sudah postingan ke-7 saja.. Segala puja dan puji kita haturkan kpd penguasa semesta, Robbul’alamin, Alloh ‘azza wajala. Sholawat atas rosululloh Muhammad SAW, yang syafaaynya kita nantikan di yaumul akhir. Smg Alloh mengijabah.

Sbg instansi yg bertanggungjawab akan data, kami pun menjalin kerjasama dg kementrian salahsatunya mengenai data kesehatan dg kmentrian terkait. Dlm waktu dekat gawe SDKI (survei demografi dan kesehatan indonesia) akan segera tiba. Bahkan update rumah tangga yg kami kira akan dilangsungkan pasca lebaran ternyata maju. Maksimal tgl 15 juni harus sdh selesai. Alhasil kami yg berencana cuti pekan depan harus kejar tayang selaligus pengawasan SOUT (survei ongkos usaha tani tanaman pangan  dan ternak).

Demi menjamon keakuratan data, saya sbg salah satu petugas update ruta SDKI, menjalankan tugas door to door serta penggambaran peta serapi mungkin sesuai kondisi lapangan. Tgl 7-8 targetnya selesai 1BS (blok sensus). Seluruhnya 4 BS dan saya mendapat tugas hanya di 1BS.

Hari pertama kami melapor dahulu ke kantor wali selanjutnya saya menyusuri wilayah sekaligus menanyakan keberadaan rumah tangga tsb. Namun krn kondisi shoum, saya santai saja dan maksimal jam12. Ba’da dzuhur, saya lanjutkan mengawasi SOUT. Sehingga sampai di rumah rasa letih tak terbendung. Kondisi lapar,persiapan masak untuk berbuka blm ada, nasi blm ditanak, ditambah anak2 yg minta “hak”nya atas ummi. Semua serasa numpuk di ubun-ubun. Suami yang sedang sakit gigi pun tak banyak membantu. Alhasil saya pun menangis di kamar mandi. Rasanya campur baur. Ingin marah tapi tidak mau. Pertentangan ini berakhir dengan menangis.

Saya tidak tau ini apakah saya lulus menahan emosi atau tidak. Tapi saya benar-benar letih badan, fikiran (krn SOUT ini bikin lier meriksanya) dan letih hati (karena anak-anak merengek ketiganya). Ini bagaimana mau jadi FTM klo rengekan gitu saja sdh mau menyerah. Ingat niat Tika. Lillah, Billah, ma’alloh to get mardlotillah. aamiin..

Maafkan Ummi ya anak-anak… Smg Ummi bs lebih tenang dan sabar lagi. Kesabaran yang indah… karena sabar tidak berujung dan sabar diawal musibah…

_Ummu Fayala

#Level1

#Day7

#Tantangan1

#komprod

#bunsayiip

Tantangan Hari ke-2

Alhamdulillah ‘alaa kulli hal. Setelah mencoba mengetik dari pukul 22.00 sampai sekitar pukul 23.00 dan berakhir gatot karena sinyal, akhirnya bisa juga jemari ini menari di atas keyboard laptop. Mungkin saya lebih tipical menulis di laptop daripada HP. Beneran sampai kesemutan tadi mencoba ngetik 2 kisah tantangan di hari ke-2 dan ke-5.

Bismillah…

Untuk kesekian kalinya semoga ini yang terakhir saya berusaha mengetik kisah tantangan komunikasi produktif hari ke-2.

Pada Jum’at lalu, sedari pagi kami penasaran dengan bau kurang sedap yang menyengat di kamar tidur anak-anak. Awalnya saya pikir bekas susu yang menempel di baju si kembar yang bercampur dengan iler mereka sehingga bereaksi dan menghasilkan uap kurang sedap. Kami hanya berusaha mengendus di sekitar mereka, tanpa menyalakan lampu kamar karena mereka terbiasa tidur dalam kondisi gelap. Hipotesis sementara () adalah itu bau susu busuk bercampur dengan iler.

Pencarian dilanjutkan saat saya akan mencuci baju anak-anak. Si kembar bangun agak siang sekitar pukul 6 pagi, sehingga sekitar pukul 6 tersebut barulah saya cek satu per satu. Olala… ternyata bau kurang sedap itu keluar dari baju Rayfa yang pup di celana. Fix berarti () ditolak dengan α 0,0009. Yang anak statistik tau nih bahasa ini.

Astaghfirulloh… Setelah beristighfar langkah selanjutnya bagi tugas dengan suami. Abi benahi mana-mana yang terimbas kejadian ini dan Ummi langsung angkat Rayfa untuk dibersihkan. Kami tidak menyangka Rayfa yang pup di celana. Karena track record beliau selama masa toilet training 2 pekan ini cukup baik. Sudah mulai mengenal risih dan bisa menahan pipis maupun pup ketika siang hari. Berbeda dengan si adik kembarnya, Fayra, yang cenderung cuek dan tidak “risihan”. Qodarulloh, siapa sangka Rayfa pun bisa kedinginan dan tidak tahan kepingin pup.

Komprod yang saya lakukan dengan Rayfa setelah stabil adalah menasihati ketika sedang menyisir rambut selepas mandi. Menurut pengalaman saya, timing saat menyisir rambut adalah waktu yang tepat untuk memasukkan nilai-nilai positif selain waktu menjelang tidur dan saat santai makan bersama. Alhamdulillah sampai detik ini, selama dengan Ummi, Rayfa bisa dikendalikan hasrat ingin pipis atau pupnya. Mungkin dia trauma juga mandi pagi-pagi pakai air dingin karena saking baunya saya enggan menahannya untuk tidak langsung mandi. Semoga istiqomah sampai benar-benar lulus toilet training ya Nak…

Komprod saya bersama suami alhamdulillah lancar hanya terkendala pengendalian emosi saat ada pihak lain yang menceritakan keburukan salahsatu pengasuh kami. Namun setelah didiskusikan dengan suami, kami sepakat untuk tabayyun ke yang bersangkutan dan selama tidak berdampak pada kasih sayang dan perlakuan ke anak kami maka masih kami pertahankan. Bismillah semoga ini pilihan yang terbaik. Setidaknya sampai mereka masuk RA atau kami kuliah lagi. Aamiin.

Demikian kisah komprod di hari ke-2 yang tertahan sampai tanggal 7 juni pukul 00.10. Semoga bermanfaat…

#Day2

#Level1

#Tantangan1

#Komunikasiproduktif

#bundayiip

Tantangan hari ke-6

Selasa ceria, alhamdulillah kami lalui pagi dengan senyum. Anak-anak riang gembira membantu kami packing pulang kampung. Maklum membawa pasukan 3 bocil membuat kami kepayahan kalau harus sekalian nenteng koper. Alhasil baju-baju untuk selama di kampung sudah harus berangkat duluan via jasa pengiriman paket. Mereka heboh menyiapkan gamis, jilbab bahkan kaos kaki mana yang akan dikirim dulu.

Nah, saat menjalang tidur malam, kesabaran saya kembali diuji. Anak-anak baru mulai mengantuk sekitar pukul 22.00 dan benar-benar terlelap pukul 23.15. Sudah dipijat, gosok gigi, berdoa, tetaaap saja, kalau masih ada 1 yang “ON” maka yang lain gak bisa terlelap. Saya yang gemes pengen ngetik pun harus menunggu sampai mereka kelelahan. Saat menjelang pukul 23.00 saya terapkan komprod kepada mereka.

“Oke, kalian mau main 10 menit lagi ya. Setelah itu istirahat.” Iffah sudah mulai paham 10 menit berarti jarum panjang akan melewati dua angka. Selama hitungan dibawah sepuluh maka dia senang menghitungnya sambil melirik jam dinding. Waktu pun berlalu. Fayra asyik dengan dus bekas pesanan HPAI, Rayfa masih kuat lari-lari. Saya pun menawarkan pilihan.

“Mbak Fa, ajak adik-adik ke kamar”

“Kalian belum capek?”

“Beloooooon…” kompak jawabnya. Huhuhu… Ummi yang mulai ngantuk Nak… Hiks

“Yaudah, Ummi udah mau istirahat, siapa yang mau dielus-elus Ummi? Ummi tunggu di kasur, atau mau tetap main tapi tidur sama Abi” Pilihan yang berat bagi si kembar dan Iffah, mereka masih terbiasa untuk tidur dengan belaian tangan Ummi. Ya, hanya Ummi. Karena ketika saya dinas luar kota dan mereka bersama pengasuh atau Abinya maka tidak ada ritual elus-elus sebelum tidur. Tidur ya tidur. Berdoa lalu terlelap. Sedangkan tidur dengan Abi artinya tidur di kamar kami (Ummi Abi) dengan pintu dikunci dan mereka tidak bisa mendapat elus-elus dari Ummi.

Meski berakhir dengan tangisan karena rebutan tangan Ummi, alhamdulillah mereka tertidur dengan 2 anak memegang lengan kanan dan telapak tangan kanan, lalu satu lagi dapat elusan dengan tangan kiri. Hmm… adaaa saja anak-anak sholihah ini.

Bismika Allohumma amuutu wa ahyaa…

#Day6

#Level1

#Tantangan1

#Komunikasiproduktif

#bundayiip