Pic Sesion dan Anak-Anak

Bulan Februari sudah hampir menutup diri, kurang dari 5 jam lagi. Dan saya masih merenungi kepadatan pekerjaan kami. Belum usai pendataan Survei Angkatan Kerja, menatap sampel Survei Konversi Gabah ke Beras, sementara WA dari petugas pencacah Survei Sosial Ekonomi Nasional belum terbaca. Sebelumnya saya menanyakan kapan pendataan perdananya. Besok adalah hari pertama pencacahan survei tersebut dan saya salah satu pengawasnya. Masih sembari menahan nafas, saya melirik ke ujung meja, di sana selembar form biodata peserta pembinaan teknis seksi statistik Produksi menampilkan data saya di atasnya. Ahad pekan ini pelaksanaannya. Allahu akbar! Belum sampai di sini, ternyata masih ada seberkas proposal Training Motivasi Persaudaraan Muslimah (Salimah) yang harus saya edit.

Masih di kamar yang sama saya mengetikkan ini, ada tiga bidadari yang sedang asyik bermain, tetiba berhenti dari kehebohannya. Mata mereka menangkap kerisauan saya. Si sulung bertanya, “Ummi kenapa?”

“Mba, maafkan Ummi ya Nak. Ahad Ummi harus ke Padang lagi, sepekan.”, jawab saya dengan mata menahan tangis. Robbi…

“Emm.. Ummi sendiri atau sama Abi perginya?”

“Kali ini Ummi sendiri Mba.” senyum terkembang di wajah polos itu.

“Oo.. Sepekan itu berapa hari Mi? Tiga hari atau lima hari? Abi di rumah kan? Mba Iffah ga apa-apa kalau masih ada Abi atau Ummi di rumah. Mba Iffah sedih kalau Ummi pergi, tapi kan Abi di rumah. Mba Iffah masih bisa bobo sama Abi. Ummi kerja ke Padang? Supaya Allah ridlo sama rezeki kita?”, saya diberondong pernyataan panjang dan lebar.

Tak terasa air mata ini menetes. Saya sadar peran saya madrasatul ‘ulaa di rumah ini. Saya yang masih belajar menjadi ibu, masih acap terbawa perasaan dengan realita sebagai working mom. Masih sering terlintas, bagaimana caranya supaya saya bisa tawazun? Anak-anak, kalian amanah utama Ummi. Maafkan Ummi ya Nak…

Suatu ketika pak suami berkata, “Ummi perbanyak jam terbang. Nanti kalau sudah tau ritmenya insyaallah bisa dihandle itu.” Ini bentuk dukungan atau hentakan ya? Beliau memang obat penenang saya. Beliau yang meyakinkan saya ketika datang surat pelantikan saat kami tengah liburan. Kata beliau, titipkan saja anak-anak ke Allah. Kita ikhtiar semaksimal mungkin manfaatkan waktu bersama anak-anak. Menambah kuantitas dan kualitas kebersamaan kami.

Ah iya, sombong sekali diri ini. Ada Allah SWT yang menjaga mereka dengan sebaik-baik penjagaan. Toh, amanah di kantor ini adalah bagian dari konsekuensi kesepakatan jauh sebelum anak-anak lahir. Konsekuensi bekerja di instansi ini, konsekuensi dari wujud birrul walidain 11 tahun silam. Saat tangan ini menandatangani surat perjanjian ikatan dinas di sebuah kampus kedinasan tempat kami menempuh pendidikan sarjana. Lalu, bertahannya saya di sini pasti ada hikmahnya.

Allah adalah sebaik-baik penentu takdir. Walau hikmah itu kadang saya sadari atau tidak, tapi saya yakin tidak ada sehelai daun jatuh tanpa ridloNya. Begitu pula kenyataan hari ini. Bahwa anak-anak harus belajar dengan hiruk pikuk pekerjaan orang tuanya. Semoga kelak mereka bisa memahami dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Semoga kelak mereka memahami bahwa setiap pilihan diiringi konsekuensi. Bahwa dibalik setiap rezeki (apapun itu) pasti ada pengorbanan untuk meraihnya.

Jalani saja Mi, nikmati prosesnya.. Ini pesan suami yang selalu membuat tenang.

Karena Allah tidak akan membebani hambaNya melebihi dari kemampuannya.

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

QS. at Taubah:105

_Umma Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike14

Iklan

Menulislah meski dalam Kebingungan

Pernahkah Sobat sedang ingin menulis tapi bingung mulai darimana?

Atau ketika sudah mengetik yang (dirasa) panjang, tetiba saat mau kirim sinyal ngadat dijalan. Alhasil tulisan yang sudah diketik dengan jerih otak hilang. Whuss… Apalagi bagi yang amatir seperti saya. Rasa, cess..  Bukannya lega, tapi pasrah… Menanti ide datang, yang kalau sudah datang belum tentu bisa langsung diketik/dituliskan. Misal dapat wangsit ketika sedang memasak. Atau saat mandiin anak. Huwaaa… 😦

Atau realcase, ketika sedang menggebu nulis ternyata batas karakter sudah maksimal. Lalu jari telunjuk justru “berinisiatif tinggi” dengan meng-klik reload. Hahaha… Hilang deh, tulisan yang melala-lala tadi. Itu yang saya alami ketika mau posting PR #15HariBercerita di #Harike6 , saya menuliskannya di instagram. Ketika batas maksimal karakter sudah tiba, telunjuk ini malah me-reload yang berakhir dengan terbukanya halaman depan IG saya. Menulis ulang adalah solusi jitu, selagi masih lekat di pikiran. Namun saat itu, si sholihah ke-3 menjerit akibat adegan salah paham dengan sang kakak. Tertundanya pengetikan ulang itu rasanyaaa… Ah, tak bisa diungkapkan. Eaa

Menulis memang ada aturannya bahkan sampai ada kelas menulis untuk mengasah bahasa dan tata cara menulis, tapi yang pasti menulis itu bisa dilatih. Bukankah kita disiplin karena adanya pembiasaan? Lalu pembiasaan terkadang diawali dari keterpaksaan bukan kesadaran? Hehe.. Aliran agak sesat tapi nyata. Kesadaran untuk menulis bisa jadi tidak semua orang melalui tahapan tersebut. Namun memaksakan diri untuk menulis bisa jadi awal dari kedisiplinan dan keahlian kita dalam menulis.

Lalu pilihan ada di jemari Anda. Mulai menulis untuk mengukir perubahan positif, atau mulai merancang kerangka artikel lalu dituliskan manual dahulu di kertas? Sama saja ya, final action-nya ya menulis.

Artikel di atas adalah contoh tulisan seseorang yang sedang bingung mau menulis apa. Jadi beliau tuliskan kebingungannya dalam sebuah tulisan. Alhamdulillah jadi juga satu postingan.

NB: Saran kalau pribadinya cerewet, media web/blog lebih tepat sebagai sarana mengasah menulis. Karena jika di IG/FB ada keterbatasan karakter (kecuali jika di FB pakai Catatan bukan Kiriman Anda di Wall)

_Umma Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike11

Seminar WAG Kepenulisan bersama Mba Tasmilah,S.ST

Menulis. Dahulu saya kira menulis ini hanya sekadar corat coret. Sempat ketika SMA saya kesetrum untuk menulis. Ya, sekedar menulis fiksi untuk ditulis dan dibaca sendiri. Saya malu sekaligus minder. Lalu, ketua keputrian ROHIS SMA kami memberi semangat dengan teladannya. Beliau sudah hampir merampungkan novelnya ketika kami akan menghadapi ujian nasional. Bahkan ketika itu kami sepakat membuat nama pena. Nama pena itu masih melekat sampai di blog ini. Hihihi…

Waktu pun berjalan. Saya kehilangan keasyikan menulis apapun. Sebenarnya semasa kuliah, saya sudah mengetahui bahwa kakak-kakak tingkat saya banyak yang keren dalam hal menulis. Saya pun membeli karya mba Nurin dan mas Budi yang kala itu membuka mata saya bahwa kami tidak terkungkung oleh rutinitas. Mereka yang masih nampak di hadapan saya bisa menerbitkan sebuah buku! The real actor! Meski mata terbuka namun ternyata saya belum bangun. Hehe… Jadi ngelindur ya Tik?

Sampai tibalah saya memasuki lembaran baru dalam biduk pernikahan sekaligus zona bekerja. Menulis masih saja byar pet seperti kondisi listrik di Kabupaten kami mengabdi. Kadang muncul semangat membara. Namun acap luntur dengan rutinitas. Alhamdulillah sekitar setahun yang lalu, saya berjumpa dengan komunitas Ibu Profesional bimbingan Ibu Septi si JariMatika. Dalam komunitas tersebut kami dituntut tidak sekedar praktik parenting namun juga menuliskannya. Saya pun bisa bertahan mulai kelas Matrikulasi sampai Games ke-2 Kelas Bunda Sayang. Kehidupan kantor yang memaksa saya untuk menjadi kasie sekaligus mengurus 3 balita yang semakin kreatif membuat saya kembali stagnan. Ah, ini hanya pembenaran saja. Yang tepat adalah saya belum expert dalam managemen waktu. Tulisan2 dalam draft itu tenggelam dengan kesibukan kantor yang membuat saya terlambat dalam menyetor tulisan. Biasanya satu games harus diselesaikan dalam 20 hari dengan jumlah tulisan minimal 10 hari. Ditengah jadwal tersebut seringkali bentrok dengan jadwal dinas luar atau dateline pekerjaan lainnya. Akhirnya bulan lalu saya memilih cuti dari Kelas Bunda Sayang. Menyesal. Saya bertekad memperbaikinya dengan mengikuti Kelas Bunda Sayang di term berikutnya. InsyaAlloh..

Diperjalanan selanjutnya, Alloh mempertemukan saya dengan Mba Nurin (masih sama orangnya dengan nama yang saya sebut sebelumnya). Mba Nurin mengajak seminar WAG dengan bapak penulis senior di instansi kami. Beliau adalah Pak Iswadi Suhari. Sebagai founder, mba Nurin memberi hastag sekaligus untuk WAG kami dengan nama #PerempuanBPSMenulis. Subhanalloh, Sungguh betapa sayangnya Alloh kepada saya. Saat semangat menulis itu memudar, Alloh hadirkan teman-teman yang dengan senang hati memberi semangat dan ilmunya dalam menulis.

Melalui komunitas menulis kali ini, saya seperti tertampar keras. Saya merasa banyak kawan seperjuangan yang ingin bangkit menjadi penulis yang lebih bermanfaat. Mereka satu instansi dengan saya, satu tujuan, mirip juga kesibukannya dengan saya. Terlebih kemarin, #PerempuanBPSMenulis kembali mengadakan seminar kepenulisan online bersama seorang Ibu Produktif. Tidak sekedar produktif dalam melahirkan anak (ups..) namun produktif menulis! Saya kembali terjerembab dengan tamparan keras. Hai Tika! Itu tengok, Mba Tasmilah sudah 69 opini dalam 2 tahun! Kamu nulis di blog doang gak konsisten! Seolah mata hati saya berteriak demikian.

Mba Tasmilah dengan kelima putra-putrinya, bekerja di instansi yang padat pekerjaan lapangan maupun di kantor, masih bisa konsisten dengan tulisan-tulisannya dalam bentuk opini di beragam surat kabar lokal maupun nasional. Allohu akbar!

Ada bagian penting yang saya beri bintang untuk menjadi pelecut ketika saya badmood menulis.

Mba Tasmilah bertutur,

Saya tidak punya waktu khusus untuk ini itu, ngalir saja. di kantor saya kerjakan pekerjaan kantor. di rumah tidak membawa pulang kerjaan. pokoknya kalo di rumah udah pegang anak. baca-baca beritanya sambil negloni anak itu tadi, karena kalo ngeloni anak kan tidak bisa disambi dengan pekerjaan lainnya. nulisnya di akhir pekan, sabtu atau minggu sampai jam 9. itupun sambil ngawasi anak-anak main juga.kao ga selesai juga ya nanti dilanjut lagi, yang penting ada sedikit yang saya tulis.
pernah saya bilang ke suami, enak banget ya bapak2. banyak banget waktu luangnya tidak digondeli anak2, ehh doi bilang tidak semua yang punya waktu luang juga akan menulis. contohnya aku (suami) sendiri.

Tuh kan Tika. Keluhan, grundelan, serta 1001 alasan menjadi mentah dengan keteladanan yang diberikan mba Tasmilah. Sekarang, itu semua bukan menjadi penghalang lagi untuk menulis. Nikmatilah masa-masa menulis. Perbanyaklah membaca. Tengoklah BRS-BRS hasil kerja instansimu, Tika! Cintailah pekerjaanmu dengan menulis. Ungkapkanlah angka-angka yang sudah teman-teman perjuangkan di lapangan dengan bahasa yang baik supaya ilmumu lebih luas manfaatnya. Ah, saya pun tidak bisa menjanjikan seberapa istiqomah diri ini dalam menulis. Saya hanya bisa belajar, berlatih dan banyak membaca. Semoga Alloh menguatkan azzam saya dalam menulis. Aamiin.

Kepada mba Tasmilah.. Jazakillah khoiiron katsir, konsistensi mba Tas menjadi pelecut semangat kami. Menepis segala ketidakmungkinan yang selama ini menghalangi saya dalam menulis. Semoga Alloh memberkahi keluarga dan ilmu mba Tas.

Kepada anak-anak saya tercinta, Fayala…

Seperti surat yang sedang mba Fa hafalkan 2 pekan terakhir…

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan

Menulislah Nak..

Jangan bosan membaca.

Belajarlah dari apa yang kalian baca.

Barokallohu fiikum :*

 

_Umma Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike9

Wirid: Sebuah Warisan Budaya

Salah satu budaya yang mengakar di tempat tinggal kami yang membuat kami bertahan adalah guyub “kehangatan” yang diberikan oleh tetangga. Diantaranya kegiatan wirid tiap dua pekan dan rewang jika ada baralek (walimah atau hajatan).

As specially wirid, ini sebenarnya duluuu saat awal tinggal di Lekok City (Jorong Sei Lambai, Lubuk Gadang Selatan, Solok Selatan, Sumbar) saya sudah bergabung. Namun tidak bertahan lama karena saat hamil Athifah si kaki ini cepat kesemutan. Jadi sungkan sama ibu-ibu klo saya klesat klesot tidak nyaman gitu. Hehe.. Lalu saya pindah ke Lekok Dalam, masih satu korong sih, tapi malah jadi keasyikan dengan rutinitas dan sabtu ahad lebih ke family time. Gaya doang. Wkwkw.. Sekarang tetep sabtu-ahad family time, sekalian ajak anak-anak mengenal silaturahim. Hahay..

Back to topic, wirid tiap dua pekan memang sudah seperti tradisi. Kegiatan mengaji surat yasin dan doa-doa pelengkapnya, tidak hanya dikhususkan bagi ibu-ibu. Para bapak juga ada jadwalnya untuk mengaji wirid ini. Untuk tempat, kami lakukan bergilir bagi siapa yang mendapat arisan maka pertemuan berikutnya bertempat di rumah beliau. Oiya, tak hanya wirid, kami jg mengadakan arisan.

Wirid memang debatable. Saya sih ambil tengahnya saja. Selama masih dalam koridor syariah, why not? Lagian kalau dipikir-pikir, kapan saya bergaul dengan para nenek-nenek juga ibu-ibu sekitar rumah? Pulang jam5 sore. Sabtu-ahad lah saatnya bersosialisasi. Selain mengaji pekanan, wirid ibu-ibu menjadi sarana refreshing bagi saya.

Secara konten, saya sebenarnya risih mendengar makhroj dan panjang pendek para ibu-ibu dalam membaca surat Yasin. Dalam jangka menengah, saya bercita-cita wirid tidak sekedar membaca buku Yasin, tapi lebih ke tafsir surat Yasin dan beranjak ke surat-surat lainnya. Ah, mungkin terlalu terlambat setelah 5 tahun di sini belum bisa berkontribusi nyata. Kemana aja Tik selama ini?

Secara teori, kami sudah dibekali masalah bermasyarakat ini semenjak beberapa bulan lulus dari kampus plat merah itu. Namun praktiknya, kesiapan bermasyarakat memang tidak bisa instan. Belum lagi jika partner kita introvert. Saya yang masih adaptasi waktu itu, cukup lama menge”rem” untuk masuk ke dunia emak-emak komplek (lagaknya komplek, padahal mah kampung di daerah tertinggal).

Ah, semoga saja masih ada kesempatan. Semoga ada sedikit yang bisa kami berikan untuk tetangga. Semoga kelak yang ringan ini bisa menjadi hujjah di akhirat saat tak ada bala bantuan selain keridloan Alloh terhadap amalan2 selama ini. Apa yang kamu berikan untuk sekitarmu, Tika?

 

_Umma Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike7

Suami istri sekantor, why not?

Hidup, mati, jodoh, rezeki merupakan takdir yang telah Alloh tentukan bagi setiap makhluk. Dalam perjalanannya ada banyak pilihan yang mengharuskan kita mengorbankan sesuatu untuk kemaslahatan yang lebih besar. Ya, itu juga sunatulloh yang tidak bisa kita hindari selama nafas masih berhembus.

Disisi lain, sesuai fitrahnya seorang ibu layaknya menjadi madrasatul ula bagi putra-putrinya. Membersamai anak-anak dan menanti kehadiran suami dari medan juangnya di rumah. Namun, tak sedikit dengan berbagai pilihan hidup tadi menakdirkan si ibu berjibaku dengan amanah ranah publik (it means as working mom). Hmm.. Saya fokuskan lagi deh, sebagai pejuang data di instansi vertikal yang diawal kontrak kerjanya mewajibkan pegawai untuk bersedia ditempatkan di seluruh wilayah republik Indonesia.

Sebagai catatan, Sahabat tak akan memahami point ini sampai Sahabat rasakan sendiri sensasi penempatan di luar kampung halaman, lintas propinsi bahkan lintas pulau, salah satunya saya. Beruntung tiga bulan sebelum penempatan, pangeran berparas putih tanpa kuda itu sudah memberanikan diri mengemban tanggung jawab bapak saya, dunia sampai akhirat insyaAlloh. Tapi tidak sedikit yang menjalankan amanah negara seorang diri ke perantauan, lalu menikah dengan ketentuan Alloh baik itu satu profesi maupun berbeda.

Pada perjalanannya, Alloh selalu menghadirkan pilihan-pilihan salah satunya apakah menjalani rumah tangga satu atap dengan suami atau memilih LDM (Long Distance Married). That a choice! Beberapa ada yang mengorbankan pekerjaan ranah publiknya demi kebersamaan dengan suami. Tapi tidak dipungkiri keberadaan para sahabat yang LDM karena belum diizinkan pimpinan. Atau memberatkan diri dengan kalimat, “Saya sudah di kota yang nyaman, suami saya di daerah. Biarlah saya menunggu sampai suami mutasi ke sini.” Wow gitu ya.. Saya mah kagak tahan buk. Mungkin saya yang terlalu manja. Hehehe.. Lagi-lagi, saya menghargai pilihannya. Karena tentunya mereka pun sudah sangat bersabar menjalani pilihannya. Bukankah setiap pilihan selalu melekat dengan konsekuensinya?

Ssttt… Ternyata banyak sebagian dari kami yang qodarulloh menjalani pilihan dapat sekantor dengan suami. Tapi tetap saja, tanpa rasa syukur, rumput tetangga akan selalu nampak lebih hijau. Hehehe…

Berdasar dari pengalaman kami pribadi, berikut plus minus yang kami rasakan menjadi pejuang data di daerah tertinggal namun masih bisa memasak saat istirahat siang untuk suami dan anak-anak.

*Bounding dengan suami saat masa pacaran

Ini penting banget karena pacaran pasca menikah itu masing-masing membutuhkan adaptasi. Kebersamaan di banyak aktivitas akan menambah kedekatan satu sama lain. Pelukan, sentuhan sayang juga terbukti menambah hormon cinta satu sama lain.

*Saat cemburu itu tiba…

Aduw… Saya malu menuliskan bagian ini. Mengingat kejadian 5 tahun silam saat suami pertama kali menjadi instruktur daerah Sensus Pertanian. Saya yang sedang menjalani trimester akhir kehamilan harus rela hanya menjadi panitia (padahal saya subject matter dan umumnya anak baru akan diberdayagunakan). Saya bahkan sangat cemburu pada saat semua tatapan peserta fokus pada instruktur. Hehehe… Saat itu yang dilakukan suami alhamdulillah mampu meluluhkan rasa cemburu saya. Tentunya akan lebih sering berkecambuk rasa cemburu ketika sepasang itu dipisahkan karena alasan pekerjaan.

*Berbagi tugas saat salah satu dari kami berhalangan

Dengan jumlah pegawai kurang dari 20 dan pekerjaan yang bertubi-tubi, membuat kami sedikit banyak mengetahui urusan pekerjaan pasangan. Seperti saat saya cuti melahirkan, suami dapat menggantikan sementara beberapa tugas saya. Atau ketika suami harus DL (dinas luar), tidak jarang saya turut meringankan tugas beliau di kantor.

*Belajar ilmu agama lebih terasa

Kemajuan teknologi memudahkan kita belajar dan mengakses ilmu dengan lebih leluasa. Namun tetap, berguru secara langsung lebih cepat memahamkan kita akan ilmu tersebut. Teladan langsung dalam keseharian mampu mengikis kebiasaan buruk sedikit demi sedikit dan bersama mengoptimalkan kebiasaan baik. Termasuk belajar ilmu agama, tahsin dan tahfiz.

*Saat keduanya ditugaskan sementara ke luar kota

Tidak selamanya kami bisa berbagi tugas. Ada kalanya, kami sama-sama ditugaskan keluar daerah dan harus memboyong anak-anak atau sebaliknya. Meninggalkan anak-anak dengan sepenuh doa. Melihat mereka yang berdiri di depan pintu melambaikan tangan kepada kami yang pergi berdinas luar sesuatu yang beraat sekali. Sebisa mungkin kami bedakan jadwal DL. Tapi ada kalanya kami harus meninggalkan mereka dengan pengasuh. Keluarga baru kami di tanah rantau. Suatu saat saya ingin mendedikasikan tulisan untuk keluarga mereka. Para pengasuh anak-anak sejak Athifah bayi merah sampai pengasuh si kembar.

*Menjaga perasaan rekan sejawat di kantor

Sesuai prinsip instansi kami, profesional, integrasi dan amanah. Sebisa mungkin kami tetap profesional di luar rumah. Ada hak-hak ummat yang melekat pada masing-masing kami saat melangkah keluar rumah. Termasuk saat di kantor. Jangan sampai ada peraaaan terdzolimi atau tidak adil. Seperti saat tadi ujian pendalaman pelatihan susenas, suami sedari ba’da subuh sudah asyik membuat soal. Saya? Tidak belajar sama sekali. Bukan karena dapat bocoran atau mentang-mentang suami sendiri yang menilai maka akan aman dari ujian. Big NO! Saya berkutat di kamar mandi dan dapur mengurus anak-anak dan pendalaman menjadi momok bagi saya saat mengerjakan tadi. Alhasil, saya pun berada di urutan menengah kebawah meski masih dikatakan lulus.

Whatever dengan yang saya curhatkan di atas. Saya rasa kunci pentingnya adalah komitmen. Mau menjalani sekantor atau LDM, maka komitmenlah dengan kesepakatan satu sama lain. Penuhi rasa syukur di setiap takdir yang kita jalani. Lalu tambah boundingnya pada Alloh, Al Qur’an dan ilmu. InsyaAlloh pertolongan Alloh itu dekat…

_Umma Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike6

Susu Kedelai bikin Ngiler

Susu kedelai itu nikmat benar. Apalagi diminum saat masih suam-suam kuku. Mau rasa plain atau ditambah sirup tetap nikmat bagi saya. Diminum sore hari sembari mendengarkan celoteh anak lebih enak lagi.

Kelezatan susu kedelai bisa juga dirasakan saat dia sudah dingin. Anak-anak lebih memilih susu kedelai dingin daripada yang hangat. Kata mereka, segaaar Mi… Mungkin karena susu kedelai lebih ringan di lidah. Ini menurut saya, kalau susu sapi terasa lekat di langit-langit mulut.

Mengenai manfaat susu kedelai, banyak sumber yang sudah mengulasnya. Bagi saya pribadi, susu kedelai yang qodarulloh lebih sering saya komsumsi ketika masa hamil, berdampak positif pada tubuh. Mengurangi mual dan tidak enek. Selain manfaat-manfaat lainnya seperti kadar protein yang tinggi, asam lemak jenuh yang lebih rendah dari susu sapi, maupun penambah darah bagi penderita anemia.

Bagaimana pengolahan kedelai menjadi susu? Ini kebiasaan saya membuat susu kedelai. Pertama, pilih kedelai yang bersih (jika perlu ditampih dulu), cuci bersih dan rendam di air biasa selama kurang lebih 6jam. Selanjutnya blender kedelai dengan tambahan air, perbandingannya 1:3 (1gelas kedelai dg 3 gelas air). Setelah itu, saring dengan kain kasa (atau kain lap makan yang bersih). Terakhir direbus dan dapat dicampur dengan sedikit gula dan daun pandan yang sudah dihaluskan. InsyaAlloh bau langu atau cepat basi bisa diatasi dengan campuran jahe atau aroma daun pandan.

Hmm… Saya jadi pengen nambah segelas lagi… :p

Fabiayyi alaairobbikuma tukadziban..

 

_Ummu Fayala_

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike3

Sabtu Ceria bersama FAYALA

Sabtu Ceria membersamai trio sholihah di sisa akhir pekan.

Alhamdulillah perjalanan 4,5 jam Padang-Solsel bersama MP dan Abu Iffah berakhir lancar, selamat, encok dan ngantuk luar biasa. Pinggang yang puegel mungkin efek duduk lama ditambah angin sepoi sepanjang jalan membuat mata berat sekali sesampainya di rumah. So, kasur menjadi tempat favorit setelah membuka pintu rumah.

Bicara tentang pelatihan, tahun ini memang sedikit berbeda gaya pelatihan di BPS lingkup Sumatera Barat. Biasanya kan untuk tryout kami mengundang responden ke tempat pelatihan lalu diwawancarai. Tapi tidak dengan pelatihan Sakernas Semesteran 2018 & SPIN ini. Kami melakukan tryout outdoor. Mengunjungi responden pelatihan di sekitar Padang. Tapi sesion ini terpaksa saya izin karena disaat bersamaan tim Producer juga meminta kehadiran kami dalam evaluasi KSA di bulan perdana ini. Alhasil, saya numpang mupeng lihat foto-foto teman-teman Sakernas yang sedang action tryout SPIN n Sakernas juga.

Kembali ke kasur.

Berdempetan dengan Athifah (dipojok); lalu Fayra dsebelah Rayfa dan terakhir Ummi di tepian kasur 160×180 ini. Posisi ini tidak saklek ya. Karena dalam perjalanan menuju lelap mereka itu selalu asyik (baca: heboh). Mana Abinya? Beliau masih khusyuk nyobain charger BV yg lagi ngadat.

Bergelayutan semua minta kepegang sama tangan Ummi. Ketiganya. Minta dielus2 sembari bercerita. Temanya? Seperti biasa. Mereka request dan siapa yang mau berdoa duluan maka tema yang diajukan dia yg terpilih menjadi urutan pertama. Belum siap dengan rebutan tangan Ummi (plus kaki), mereka merajuk kapan tema ceritanya akan dibacakan. Huwaaa Maaak, harus mengkader Athifah ini namanya. Dalam waktu 5 bulan, semoga Athifah sudah bisa lancar bercerita. Minimal untuk si kembar. Biar we time sama si debay (a.k.a nyusuin) kelak bisa lancar. Bolehlah ini masuk ke resolusi Tika 2018. Hahaha…

Betapa nikmatnya. Alhamdulillah… Menikmati berdesakan di kasur sempit yang disinilah sebagian ide-ide kami, permainan anak-anak, bahkan kepandaian mereka muncul. Mulai bisa tengkurep. Hehe… Sempit karena untuk ukuran 3bocil lasak plus emak gadang model saya. Selain moment makan bersama, menjelang tidur merupakan waktu istimewa bagi saya untuk mendengar keluh kesah mereka. Bercerita dan mendengar cerita. Dari tertawa, berantem sampai menangis bersama.

Seperti malam ini (tadi sih karena ngetik ini kepending beberapa jam soalnya saya ikutan tidur. Wkwkwk).

Lima hari tak bersua. Ada banyak kisah yang belum tersampaikan melalui telpon, video call maupun WA. Sebelum minta bercerita fabel, mereka satu per satu bercerita kejadian2 seru sedari senin sampai sabtu pagi kemarin. Berebutan pastinya. Harus ada perjanjian, selama ada yang bicara maka yang lain stop! Tidak ada tapi. Bahkan saat Ummi haus ingin minum kudu ditahan sampai penggal terakhir. Mata harus fokus lihat yang bicara. Ini semua karena kalau ada yang melanggar maka Athifah dengan cepat langsung bilang, “Kan gitu, nanti mbak Fa inget-inget lagi nih mau ngomong apa lagi. Diaaam dulu”. Sikapnya ini sudah jalan 4 bulan. Hadeuh..

Baiklah.. Sudah mau jam4. Kita start dulu yak bebenah. Semoga Alloh ridlo…

Barokallohu fiikum :*

_Umma Fayala_

Gak rempong gak asyik, menikmati membersamai balita2 sholihah insyaAlloh.

4Feb2018; 03.50

#PerempuanBPSMenulis

#MenulisAsyikdanBahagia

#15HariBercerita

#Harike2