Our memorial with IIP #week9

Bismillah..

Tidak ada sesuatu yang kebetulan atas kehidupan kita. Semua sudah ditentukan oleh Alloh, maka sudah seharusnya kita ucapkan qodarulloh. Sebagaimana pertemuan saya dengan para bunda hebat di Institut Ibu Profesional. Meski baru sekitar 2 bulan saya bergabung di keluarga besar IIP Padang, namun ruh yang saya rasakan seolah-olah seperti bertemu dengan kakak-kakak yang sangat dirindukan.

Saya yang sudah 4,5 tahun menikah namun mulai mengalami kehampaan yang sesekali muncul karena seolah saking flow like a river. Menjalani kehidupan hanya rutinitas. Itu membosankan. Dan melalui IIP saya mulai “berkenalan” dengan diri sendiri. Bukankah orang yang beruntung adalah dia yang dapat menghargai dirinya sendiri? Lalu bagaimana dia bisa menghargai diri tanpa mengenalnya?

Rangkaian NHW dalam materi matrikulasi disusun apik supaya ibu2 galau semacam saya mampu memahami potensi yang ada dalam diri. Saya sendiri sudah tidak memikirkan apakah akan lulus atau tidak, tapi rasanya saya tidak mau lepas dari atmosfer sholihah bunda2 di IIP terutama IIP Padang.

Sebagai ibu 3 anak batita di usia 24 tahun, sungguh perjuangan bagi saya untuk mempertahankan “kewarasan”. Apalagi mau ngomongin “perubahan bagi masyarakat”. Namun, penguatan dari suami juga berbagai support dan pengalaman bunda2 IIP, membuat saya mantap. Bahwa semua ketetapan Alloh pasti yang terbaik. Hikmah itu ada di setiap jejak kehidupan kita. Kita hanya diminta memungut setiap hikmah yang Alloh hidangkan. Berbijaksana menghadapi tantangan dan bermanfaatlah bagi sesama.

Jazaakumulloh khoiiron katsir untuk Ibunda Septi semoga ini semua menjadi amal jariah bagi Ibu sekeluarga. Semoga dilimpahkan keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak. Izinkan saya untuk terus memantaskan diri bersama IIP. Izinkan saya tuntaskan impian dan cita-cita yang kami (saya dan suami) rangkai dalam program IIP. Izinkan saya untuk menimba ilmu dari kehebatan bunda2 IIP. Semoga berjaya selalu dan masing-masing dari kita dapat mengoptimalkan amal dan kebermanfaatan di dunia yang hanya sebagai tempat singgah sejenak.

Salam Ibu Profesional,

Ummu Fayala

Kartika Eka Pratiwi NHW#6

Bunda, sekarang saatnya kita masuk dalam tahap “belajar menjadi manajer keluarga yang handal”. Mengapa? karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup kita dan semoga mempermudah bunda mendampingi anak-anak menemukan peran hidupnya.

Ada hal-hal yang kadang mengganggu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita Merasa Sibuk sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sbb :

  1. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting 
    Aktivitas penting:

    1. Ibadah
    2. Bersama keluarga especially anak
    3. Bekerja

            Yang tidak penting:

  1. berkeliaran di socmed
  2. online window shopping
  3. ngecek WA terlalu sering
  4. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
    Hampir seimbang. Yang masih kurang konsisten adalah mengecek WA terlalu sering. Klo untuk online activity sy batasi ketika anak tidur atau ketika di kantor.
  5. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda, tengok NHW sebelumnya ya, agar selaras.
    Masih sulit bagi saya memisahkan ketiga aktivitas penting tersebut. Ibadah merupakan modal bagi saya untuk bisa melakukan aktivitas2 selainnya. Sedangkan anak-anak adalah fokus saya. Namun dilain sisi ada amanah lain yang sudah ada sebelum anak-anak lahir yaitu bekerja di ranah publik (kami pasangan PNS yang terikat ikatan dinas karena dulu kami kuliah di kampus kedinasan). Oleh karena ada misi dakwah juga disana plus dominasi waktu saya di luar rumah, maka saya anggap bekerja di ranah publik sebagai aktivitas penting (3) saya. Untuk optimalisasi waktu, ketika di sela2 pekerjaan kantor saya manfaatkan dengan aktivitas dinamis seperti merampungkan 1 juz, mengumpulkan ide bermain sambil belajar dengan anak-anak bahkan mengisi halaqoh salah satunya adalah ketika break siang di hari Jum’at. Hal ini supaya mengoptimalkan PLR (pekerjaan diluar rumah) saya.
  6. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
    00 – 07.25 = aktivitas rutin
    07.25 -17.00 = aktivitas rutin (bekerja di kantor) dengan menyelipkan aktivitas dinamis di dalamnya
    17.00 – tidur = aktivitas dinamis
  7. Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda. 
    Agenda tidak terencana biasanya lembur ke “lapangan” untuk mencacah responden karena disini wilayahnya jauh-jauh jadi memakan waktu perjalanan. Saya akan diskusi ketat dengan suami supaya bs mendelegasikan overtime tsb dengan pihak lain yang amanah.
  8. Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)

JADWAL WEEKDAY

WAKTU AKTIVITAS
04.00-05.00 Tahajud; menghafal
05.00-05.45 Sholat subuh; zikir al ma’tsurat
05.45-06.30 Memasak sambil mencuci baju
06.30-07.00 Mandiin si kembar, nge-cek aktivitas pagi Mbak Fa; aktivitas pribadi lainnya (mandi dll)
07.00-07.25 Sarapan pagi anak-anak; Sholat dluha; panasin motor
07.25-17.00 Aktivitas kantor; aktivitas dinamis
17.00-18.25 Eksplorasi dengan anak-anak
18.25-19.00 Sholat maghrib & Tilawah
19.00-19.40 Makan malam; diskusi keluarga
19.40-20.00 Sholat isya; aktivitas pribadi
20.00- tidur Mendongeng atau bercerita dengan anak2

Untuk weekend, kami lebih fleksibel namun aktivitas pagi itu sejauh ini tetap sama karena anak-anak sudah kebiasaan. Polanya 50% aktivitas dinamis & ekplorasi dengan anak2; 30% quality time dengan suami (ngobrol ngalor ngidul); 20% aktivitas sosial (halaqoh dll). Contoh,

WAKTU AKTIVITAS
04.00-05.00 Tahajud; menghafal
05.00-05.45 Sholat subuh; zikir al ma’tsurat
05.45-06.30 Memasak sambil mencuci baju
06.30-07.30 Mandiin si kembar, nge-cek aktivitas pagi Mbak Fa; aktivitas pribadi lainnya (mandi dll)
07.30-08.25 Sarapan pagi anak-anak; Sholat dluha
08.25-11.00 Eksplorasi dengan anak-anak
11.00-14.00 Aktivitas dinamis: tilawah; masak; persiapan halaqoh
14.00-18.00 Halaqoh
18.00-19.00 Sholat maghrib & Tilawah
19.00-19.40 Makan malam; diskusi keluarga
19.40-20.00 Sholat isya; aktivitas pribadi
20.00- tidur Mendongeng atau bercerita dengan anak2

 

9. Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Siappp… Bismillah

 

Fayala Mumtaza Daycare

Bismillah…

Ini dia impian saya di 2017…

PROPOSAL

*FAYALA MUMTAZA* Daycare

Visi: Mencetak generasi Robbani yang bertaqwa dan brilliant sesuai fitrahnya

Misi:

  1. Menstimulus pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai kelompok usianya
  2. Membekali aspek ruhiyah sesuai sunnah
  3. Memberikan layanan gizi dan kesehatan yang mencukupi
  4. Membekali pendidikan ortu mengenai Parenting Nabawiyah

Sasaran:

Anak-anakku yang utama Fayala :*
selanjutnya adalah anak-anak usia 13 bulan s.d 60 bulan.

Kelompok usia:

Gold 13 bulan-24 bulan (1-2 tahun)

Silver 25 bulan-36 bulan (2-3 tahun)

Brilliant 37 bulan-60 bulan (3-5tahun)

Lokasi: Lekok Baity Jannati

PR besar

  1. Kurikulum sesuai kelompok usia
  2. Infrastruktur yang memadahi
  3. Tenaga pengajar
  4. Keuangan
  5. Bekal ilmu untuk pengajar dan wali murid

Uraian

1.Kurikulum sesuai kelompok usia

  • membuat checklist tumbang anak 1-5 tahun
  • Membuat kurikulum tahunan, triwulanan, bulanan, pekanan dan harian per kelompok umur

2. Infrastruktur yang memadahi

  • 2 ruang eksplorasi
  • 1 taman bermain outdoor
  • kamar tidur
  • dapur sehat
  • toilet ramah anak

3. Tenaga pengajar

  • Gold age 1 pengasuh maks 3 anak
  • Silver age 1 pengasuh 4-5 anak
  • Brilliant age 1 pengasuh 5-8 anak
  • dibutuhkan 1 orang fokus; diutamakan psikolog/ pg-paud

4. Keuangan

  • Pemasukan: modal (internal bisa mengajukan proposal ke yayasan/lembaga); on the spot fee(tentative tergantung jml murid::uang pendaftaran; biaya full day; biaya half day; biaya on day)
  • Pengeluaran: untuk nge-cat rumah; membenahi dapur dan kamar mandi; melengkapi mainan edukatif; sarpras lainnya

5. Bekal ilmu untuk pengajar dan wali murid

  • Training pengajar sebelum pembukaan
  • Halaqoh al qur’an 1x sepekan
  • Family gathering berupa kajian, rekreasi, lomba2, pelatihan kewirausahaan

***********************************************************************

Koto tinggi, 24 Februari 2017

 

WWL with My Twin

Assalamu’alaykum kakak twin…

Alhamdulillah malam ke-5 tadi berakhir dengan baik. Malam ke-4 saat Fayra menjerit minta mimik susu di tengah malam, kau tetap lelap dalam tidurmu. Nah, semalam kalian semacam bertukar shift. Giliran Rayfa yang meramaikan tengah malam kita. Meski begitu intensitas kalian untuk minta mimik bobo sudah berkurang.

Sebuah kenangan indah untuk kalian kelak besar. Baca lebih lanjut

My Twins Story #1

Januari, 2014 tepatnya tanggal 10 Januari, kami usai melakukan perjalanan panjang untuk sebuah kalimat birrul walidain. Kami yang merantau jauh di Sumatera Barat sementara keluarga besar kami baik dari paksu maupun dari keluarga besarku di Purwokerto. Birrul walidain menjadi momentum yang penuh uforia kegembiraan karena kerinduan yang selama kurang lebih satu tahun telah terpendam. Tak berapa lama akupun haid di tanggal 13 Januari. Ini merupakan haid ketiga setelah Athifah lahir. Selama kurang lebih 11 hari aku haid. Dan ternyata itulah haid terakhirku sampai dengan bulan April 2016 lalu. Hehe…

Sebulan setelah tanggal 13 Januari, aku mulai menghitung hari. Kapankah si tamu bulanan itu akan tiba. Do’a yang terbaik saja Ummi…. Begitu kata Abuya anak-anak menenangkanku. Jujur saya khawatir hamil saat itu. Mengingat di tanggal 10 Februari Athifah baru saja ulbul ke-7. Usia yang saat dini untuk dia menerima kenyataan menjadi seorang kakak. Mau testpack pun ragu karena apa yang akan kukatakan pada keluarga kalau benar hamil. Akhirnya setelah berdiskusi dengan paksu, kami memutuskan untuk tidak perlu testpack. Biar saja mengalir. Makan makanan yang bergizi dan banyak berdoa. Banyak pertimbangan saat itu, aku yang belum prajabatan (direncanakan April 2014 waktu itu) dan usia si kakak yang masih belia. Setiap orang tua menelepon, sebisa mungkin kami alihkan perbincangan ke arah selain tentang “apakah iffah mau punya adik?”. Sederhana sebenarnya, bahwa aku takut orang tua khawatir dengan kondisi kami. Itu saja.

Hari berganti, sampai akhirnya masa prajabatan pun tiba. Aku yang ketinggalan prajabatan karena saat mau prajab dengan teman-teman STIS angkatan 49, aku sedang hamil muda si kakak. Dan nggak lucu kalau PNS-ku tertunda lagi karena lagi hamil (lagi). Hehehe… Selama 3 pekan aku prajabatan dengan pemda Sumatera Barat di Kota Padang. Kalau dihitung usia kandungan saat itu memasuki bulan ke-5. Belum begitu nampak dari fisik tapi dari nafsu makan. Pagi-pagi kami senam dan aku selalu membawa tentengan berupa susu dan roti. Setelah itu sarapan. Kawan-kawan selalu menanyakan apakah normal makan sebanyak itu. Oya, waktu itu di hari kedua aku pun jujur ke panitia bahwa aku “mungkin” sedang hamil. Alhamdulillah panitia memberikan toleransi untuk beberapa kegiatan yang menguras tenaga maka aku boleh istirahat sambil memperhatikan teman-teman yang sedang berkegiatan.

Sekitar akhir Mei, prajabatan pun usai. Selama 3 pekan tersebut Athifah ikut menginap di badan diklat. Jadi saat itu yang ikut prajabatan ada aku, Athifah dan budhe pengasuh. Lumayan rempong tapi nikmat karena tetap bisa main dengan Athifah disela-sela agenda prajab. Penutupan selesai pada pukul 10.00 WIB. Saat itu juga aku pergi ke rumah sakit pemerintah M.Jamil Padang untuk mengurus Surat Kesehatan untuk kelengkapan berkas PNS. Lagi hamil 5 bulan lari0lari bolak balik dari satu poli ke poli lainnya seorang diri. Sampai di poli paru-paru yang mengharuskan rongent, aku terpaku beberapa detik. Sebuah tulisan tebal dan kapital terpampang dihadapanku. BAGI IBU HAMIL DILARANG MEMASUKI RUANGAN INI. Ups… Seorang petugas menyarankanku untuk berkoordinasi di bagian poli umum yang menangani KIR apakah boleh diganti dengan USG saja. Alhamdulillah dengan sedikit drama karena dokter spesialis kandungannya saat itu sedang rapat maka aku berlari-lari cari ojek untuk menuju ke rumah sakit Siti Hawa demi mendapatkan hasil USG. Saat itu yang dipikiranku adalah kalau gak selesai hari ini berarti aku harus bolak balik Solsel-Padang minggu depan. Lalu Iffah sama siapa? Saat itu Iffah masih ASI dan dalam kondisi hami melakukan perjalanan 4-5 jam dengan jalanan rusak. Oh, No! Finally, setelah ditemui di RS Siti Hawa, aku bisa langsung melakukan USG. Dengan buk Ermawati, aku dilayani dengan cukup baik. Bu dokter senyam senyum.

“Ibu kenapa kok terburu-buru?”

“Saya sedang mengurus KIR untuk berkas PNS bu..”

“Yaah sabarlah ini ada dua kantong Bu…”

….melongo….

“Masyaa Alloh Bu, ini kembar!” Tegas Bu Dokter.

“Yang benar Bu? Allohuakbar”

Sepulang dari rumah sakit, akupun hanya banyak mengucap hamdallah. Penyesalan bahwa aku masih menutupi kehamilan ini pun menyergap. Maafkan Ummi Nak… Alhamdulillah hasil USG menyebutkan mereka tumbuh dengan baik. Terimakasih ya Alloh. Engkau berikan aku kesempatan untuk kembali hamil plus dengan keberkahan kehamilan kembar ini. Anak-anak yang kuat dan tangguh. Ummi bangga pada kalian: Mbak Fa (Athifah), dan juga adik2 kembar.

Kepada kedua orang tua kami jelaskan perlahan dan harapan kami untuk tetap merawat Athifah meskipun kelak jarak usia mereka berdekatan. Aku yakinkan pada Ibu dan Mama bahwa pertolongan Alloh itu sangat dekat dan kami yakin dengan ridlo mereka, pasti semua akan lebih mudah. Benarlah adanya, kehamilan kembar sembari tetap memberikan hak ASI kepada Athifah selama 9 bulan terlalui dengan lancar. Mama selalu mengirimkan sms penyemangat dan Ibu selalu dengan suara sendunya meratapi seolah kami ini pasangan yang selalu dikasihani. Padahal kami sehat dan bahagia sekali menyambut si kembar lahir. Suami selalu menyiapkan bahan masakan yang bergizi, mulai dari daging merah, telur ayam kampung dan susu murni menjadi konsumsi rutinku selain madu atau sari kurma. Dengan ridlo Alloh pula di bulan Ramadhan 1435 H aku bisa berpuasa dan batal selama 4 hari karena Athifah diare sehingga membutuhkan ASI melebihi biasanya. Allohu yassirna, alhamdulillah…

Persiapan kami menghadapi kelahiran si kembar, selain konsumsi makanan yang bergizi kami juga mempersiapkan Athifah untuk menjadi kakak. Kami libatkan saat mempersiapkan baju-baju lama Mbak Fa yang akan dipakai oleh sang adik. Dan yang paling berat adalah menyapih Athifah untuk lepas menyusu langsung dari puting dan beralih ke dot. Penyapihan membutuhkan waktu sepekan dan meyakinkan bahwa Athifah tetap bisa minum susu Ummi tapi lewat dot Nak… Itu bagian yang paling dramatis. Alhamdulillah Athifah lulus ASI 2 tahun meskipun di tahun pertama saja ia menyusu langsung dan selebihnya melalui dot.

Persiapan lainnya adalah olahraga. Sama dengan saat menjelang kelahiran Athifah. Aku rajin pemanasan dan jalan kaki dipagi hari saat weekend. Waktu weekday aku manfaatkan untuk senam ringan seperti jongkok-berdiri atau jongkok lama sembari menguleg sambal. Hehe… Olah raga ringan lainnya adalah bernafas melalui nafas perut. Saat Athifah segala persiapan nafas perut gagal total karena info yang minim mengenai masa-masa kontraksi. Diharapkan di kelahiran si kembar semua akan lebih baik sesuai rencana.

Sampai tiba masanya cuti melahirkan. Horee horee horee… 7 September 2014 menjadi hari pertama cutiku sekaligus kepulangan kami ke Purwokerto. Kami pulang dengan memboyong Athifah yang saat itu baru 14 bulan dan perut yang segede gentong.

To be continued….

Teruntuk para mujahidah kecilku… teruslah istiqomah dalam menegakkan Diin ini. Semoga Alloh meridloi kalian untuk menjadi muslimah tangguh dan hafidzoh. Aamiin…

 

Membersamai Tiga Calon Bidadari Syurga

Tahun keempat di tanah rantau yang terkenal dengan bareh nan lamak, alhamdulillah Allah masih memberikan kami kesempatan untuk terus bersyukur dan bersabar dalam berkarya. Pagi tadi ketiga putri kami bangun bersamaan. Si sulung (3 tahun 3 bulan) sembari mengusap matanya, mengulum senyum untukku. Hayo mbaa…mana do’anya? Sejurus kemudian mulut mungilnya mengucap do’a bangun tidur. Dan si kembar (2 tahun) meringik dengan mata masih kiyip-kiyip memohon sekiranya aku memberikan ASI untuk mereka. Namun segera kualihkan dengan hal lain sehingga mereka terlupa dengan keinginannya. Ya, sepekan ini mereka berdua memasuki masa penyapihan. Proses panjang yang kucoba sealamiah mungkin. Selembut yang bisa kulakukan. Dengan sounding, dengan kesepakatan dan kedisiplinan. Ah, Nak… serasa cepat sekali waktu berlalu…

Empat tahun silam, siapalah daku, gadis kampung yang langsung nikah selepas masa magang selama 10 bulan sejak diwisuda. Mendapat banyak pertanyaan dari keluarga mengapa siapa bagaimana bisa. Dan dengan ridlo Allah serta kepercayaan orang tua, maka kami tekadkan untuk memilih jalur halal dengan pernikahan di usiaku 22 tahun dan suami saat itu 23 tahun. Menikah muda menjadi pilihan kami dan tanpa pacaran. Tak lama kemudian Allah karuniakan sebenih janin di rahimku. Dalam kondisi serba prihatin dengan sisa uang magang yang tidak seberapa dan masa penempatan selepas magang (kami berdua kuliah kedinasan dan setelah magang 11 bulan kami ditempatkan di bumi Minang Sumatera Barat). Si sulung adalah guru kami. Si sulung adalah sarana kami belajar. Si sulung adalah putri yang selalu kami rindukan. Semenjak hamil, rindu kami membuncah untuk menimang seorang anak. Pun setelah lahir adiknya yang ternyata kembar, si sulung tetap kami rindukan dengan segala kelincahan dan kelucuannya. Athifah Syauqiyatu Wardah. Putri yang penuh kasih sayang yang selalu kami rindukan dan berwajah kemerahan selaksa mawar. Do’a yang tersemat dalam namanya memang Allah kabulkan bahwa si sulung sangat mencintai adik-adiknya dan kulitnya yang putih membuat dirinya nampak seperti Wardah-mawar yang kemerahan-. Alhamdulillah ‘ala kullihal… Semoga Allah memberikannya keistiqomahan dalam belajar dan menghafal alqur’an.

Tak hanya Athifah, si kembar… Asiyah dan Ashilah… Kalau dikenang kembali masa awal setelah kelahiran mereka, hanya syukur yang dapat terucap. Tanpa campur tangan-Nya, semua kisah kami serasa mustahil. Si kembar lahir di usia kandungan 37 pekan dan berat badan mereka hanya 2,3 dan 2,5 kg. Asiyah sempat muntah berwarna coklat di malam pertama kelahirannya. Selanjutnya dirawat di inkubator. Sekotak berdua. Dan di hari ketiga terpaksa kami bawa pulang karena tidak ada tanggapan signifikan oleh dokter dan keyakinan suami bahwa kedua putrinya sebenarnya sehat tapi kenapa seolah ditahan di rumah sakit. Dengan modal lampu hangat di kamar dan dikondisikan untuk tetap hangat sehingga mereka tidak kedinginan juga pemberian ASI konsisten 2 jam sekali. Alhamdulillah keluarga mendukung untuk ASI eksklusif sehingga 2 dus susu formula yang dibawakan oleh suster tidak kami berikan ke si kembar. Malahan untuk minum ibunya dengan dicampur kopi. Hehehe… Dunia per-ASI-an kami (aku dan si kembar) adalah kisah terromantis yang pernah kualami. Sebelum mereka lahir, aku beli bantal menyusui tandem. Namun saat dipraktekkan dengan si kembar, mereka malah cenderung muntah saat menyusu bersama dengan bantal. Mungkin karena masih kecil dan belum mahir mengontrol minumnya. Percobaan berbagai kemungkinan dengan menyusui tandem kami lakukan. Sampai akhirnya mendapat posisi puwenak dengan cara aku posisi setengah push-up dan mereka pakai bantal agak tinggi sehingga mengurangi kemungkinan tersedak. Enam bulan terasa laaamaaa sekali. Sembari kami menyempurnakan ASI selama 2 tahun untuk si sulung yang saat adik-adiknya lahir dia berusia 15 bulan. Saat itu Allah yang Maha Kaya menganugerahkan ASI yang mencukupi untuk ketiga putri kami. Walaupun Athifah minum ASI melalui botol.

Hari demi hari kami lalui dengan debar khawatir bagaimana tumbuh kembang anak-anakku ini. Ya, mereka kembar, tapi Allah berikan keistimewaan masing-masing. Setiap perkembangannya pun berbeda. Dari sisi motorik, Ashilah lebih tangkas daripada sang kakak kembar. Namun, untuk bicara Asiyah lebih cerewet. Meskipun kami harus menunggu selama 2 tahun sampai mereka dapat memanggil kami dengan kata “Abiii… Ummiiii”.

Pada akhirnya, hanya syukur Alhamdulillah yang terucap dengan segala perjuangan yang telah, sedang dan akan kami lalui. Apapun itu, selama kita berserah hanya pada Allah maka akan diberikan jalan keluar dari setiap masalah kita. Terimakasih ya tiga bidadari Ummi. Terimakasih membuat Ummi merasa berharga. Terimakasih untuk setiap celoteh, rengekan, ciuman dan pelukan hangat kalian. Kini sampai Allah kehendaki nafas ini berhenti maka mari Nak, kita belajar dan mengajarkan pada dunia bahwa Islam itu Indah dan jangan berhenti berkarya. Genggam Al Qur’an dalam hati dan lakukan apa yang diperintahkan Allah melaluinya. Semoga Allah meridloi kalian untuk dapat menjadi muslimah tangguh dan bermanfaat bagi umat.

#Bitread
#EmakPintar