My Twins Story #1

Januari, 2014 tepatnya tanggal 10 Januari, kami usai melakukan perjalanan panjang untuk sebuah kalimat birrul walidain. Kami yang merantau jauh di Sumatera Barat sementara keluarga besar kami baik dari paksu maupun dari keluarga besarku di Purwokerto. Birrul walidain menjadi momentum yang penuh uforia kegembiraan karena kerinduan yang selama kurang lebih satu tahun telah terpendam. Tak berapa lama akupun haid di tanggal 13 Januari. Ini merupakan haid ketiga setelah Athifah lahir. Selama kurang lebih 11 hari aku haid. Dan ternyata itulah haid terakhirku sampai dengan bulan April 2016 lalu. Hehe…

Sebulan setelah tanggal 13 Januari, aku mulai menghitung hari. Kapankah si tamu bulanan itu akan tiba. Do’a yang terbaik saja Ummi…. Begitu kata Abuya anak-anak menenangkanku. Jujur saya khawatir hamil saat itu. Mengingat di tanggal 10 Februari Athifah baru saja ulbul ke-7. Usia yang saat dini untuk dia menerima kenyataan menjadi seorang kakak. Mau testpack pun ragu karena apa yang akan kukatakan pada keluarga kalau benar hamil. Akhirnya setelah berdiskusi dengan paksu, kami memutuskan untuk tidak perlu testpack. Biar saja mengalir. Makan makanan yang bergizi dan banyak berdoa. Banyak pertimbangan saat itu, aku yang belum prajabatan (direncanakan April 2014 waktu itu) dan usia si kakak yang masih belia. Setiap orang tua menelepon, sebisa mungkin kami alihkan perbincangan ke arah selain tentang “apakah iffah mau punya adik?”. Sederhana sebenarnya, bahwa aku takut orang tua khawatir dengan kondisi kami. Itu saja.

Hari berganti, sampai akhirnya masa prajabatan pun tiba. Aku yang ketinggalan prajabatan karena saat mau prajab dengan teman-teman STIS angkatan 49, aku sedang hamil muda si kakak. Dan nggak lucu kalau PNS-ku tertunda lagi karena lagi hamil (lagi). Hehehe… Selama 3 pekan aku prajabatan dengan pemda Sumatera Barat di Kota Padang. Kalau dihitung usia kandungan saat itu memasuki bulan ke-5. Belum begitu nampak dari fisik tapi dari nafsu makan. Pagi-pagi kami senam dan aku selalu membawa tentengan berupa susu dan roti. Setelah itu sarapan. Kawan-kawan selalu menanyakan apakah normal makan sebanyak itu. Oya, waktu itu di hari kedua aku pun jujur ke panitia bahwa aku “mungkin” sedang hamil. Alhamdulillah panitia memberikan toleransi untuk beberapa kegiatan yang menguras tenaga maka aku boleh istirahat sambil memperhatikan teman-teman yang sedang berkegiatan.

Sekitar akhir Mei, prajabatan pun usai. Selama 3 pekan tersebut Athifah ikut menginap di badan diklat. Jadi saat itu yang ikut prajabatan ada aku, Athifah dan budhe pengasuh. Lumayan rempong tapi nikmat karena tetap bisa main dengan Athifah disela-sela agenda prajab. Penutupan selesai pada pukul 10.00 WIB. Saat itu juga aku pergi ke rumah sakit pemerintah M.Jamil Padang untuk mengurus Surat Kesehatan untuk kelengkapan berkas PNS. Lagi hamil 5 bulan lari0lari bolak balik dari satu poli ke poli lainnya seorang diri. Sampai di poli paru-paru yang mengharuskan rongent, aku terpaku beberapa detik. Sebuah tulisan tebal dan kapital terpampang dihadapanku. BAGI IBU HAMIL DILARANG MEMASUKI RUANGAN INI. Ups… Seorang petugas menyarankanku untuk berkoordinasi di bagian poli umum yang menangani KIR apakah boleh diganti dengan USG saja. Alhamdulillah dengan sedikit drama karena dokter spesialis kandungannya saat itu sedang rapat maka aku berlari-lari cari ojek untuk menuju ke rumah sakit Siti Hawa demi mendapatkan hasil USG. Saat itu yang dipikiranku adalah kalau gak selesai hari ini berarti aku harus bolak balik Solsel-Padang minggu depan. Lalu Iffah sama siapa? Saat itu Iffah masih ASI dan dalam kondisi hami melakukan perjalanan 4-5 jam dengan jalanan rusak. Oh, No! Finally, setelah ditemui di RS Siti Hawa, aku bisa langsung melakukan USG. Dengan buk Ermawati, aku dilayani dengan cukup baik. Bu dokter senyam senyum.

“Ibu kenapa kok terburu-buru?”

“Saya sedang mengurus KIR untuk berkas PNS bu..”

“Yaah sabarlah ini ada dua kantong Bu…”

….melongo….

“Masyaa Alloh Bu, ini kembar!” Tegas Bu Dokter.

“Yang benar Bu? Allohuakbar”

Sepulang dari rumah sakit, akupun hanya banyak mengucap hamdallah. Penyesalan bahwa aku masih menutupi kehamilan ini pun menyergap. Maafkan Ummi Nak… Alhamdulillah hasil USG menyebutkan mereka tumbuh dengan baik. Terimakasih ya Alloh. Engkau berikan aku kesempatan untuk kembali hamil plus dengan keberkahan kehamilan kembar ini. Anak-anak yang kuat dan tangguh. Ummi bangga pada kalian: Mbak Fa (Athifah), dan juga adik2 kembar.

Kepada kedua orang tua kami jelaskan perlahan dan harapan kami untuk tetap merawat Athifah meskipun kelak jarak usia mereka berdekatan. Aku yakinkan pada Ibu dan Mama bahwa pertolongan Alloh itu sangat dekat dan kami yakin dengan ridlo mereka, pasti semua akan lebih mudah. Benarlah adanya, kehamilan kembar sembari tetap memberikan hak ASI kepada Athifah selama 9 bulan terlalui dengan lancar. Mama selalu mengirimkan sms penyemangat dan Ibu selalu dengan suara sendunya meratapi seolah kami ini pasangan yang selalu dikasihani. Padahal kami sehat dan bahagia sekali menyambut si kembar lahir. Suami selalu menyiapkan bahan masakan yang bergizi, mulai dari daging merah, telur ayam kampung dan susu murni menjadi konsumsi rutinku selain madu atau sari kurma. Dengan ridlo Alloh pula di bulan Ramadhan 1435 H aku bisa berpuasa dan batal selama 4 hari karena Athifah diare sehingga membutuhkan ASI melebihi biasanya. Allohu yassirna, alhamdulillah…

Persiapan kami menghadapi kelahiran si kembar, selain konsumsi makanan yang bergizi kami juga mempersiapkan Athifah untuk menjadi kakak. Kami libatkan saat mempersiapkan baju-baju lama Mbak Fa yang akan dipakai oleh sang adik. Dan yang paling berat adalah menyapih Athifah untuk lepas menyusu langsung dari puting dan beralih ke dot. Penyapihan membutuhkan waktu sepekan dan meyakinkan bahwa Athifah tetap bisa minum susu Ummi tapi lewat dot Nak… Itu bagian yang paling dramatis. Alhamdulillah Athifah lulus ASI 2 tahun meskipun di tahun pertama saja ia menyusu langsung dan selebihnya melalui dot.

Persiapan lainnya adalah olahraga. Sama dengan saat menjelang kelahiran Athifah. Aku rajin pemanasan dan jalan kaki dipagi hari saat weekend. Waktu weekday aku manfaatkan untuk senam ringan seperti jongkok-berdiri atau jongkok lama sembari menguleg sambal. Hehe… Olah raga ringan lainnya adalah bernafas melalui nafas perut. Saat Athifah segala persiapan nafas perut gagal total karena info yang minim mengenai masa-masa kontraksi. Diharapkan di kelahiran si kembar semua akan lebih baik sesuai rencana.

Sampai tiba masanya cuti melahirkan. Horee horee horee… 7 September 2014 menjadi hari pertama cutiku sekaligus kepulangan kami ke Purwokerto. Kami pulang dengan memboyong Athifah yang saat itu baru 14 bulan dan perut yang segede gentong.

To be continued….

Teruntuk para mujahidah kecilku… teruslah istiqomah dalam menegakkan Diin ini. Semoga Alloh meridloi kalian untuk menjadi muslimah tangguh dan hafidzoh. Aamiin…

 

Membersamai Tiga Calon Bidadari Syurga

Tahun keempat di tanah rantau yang terkenal dengan bareh nan lamak, alhamdulillah Allah masih memberikan kami kesempatan untuk terus bersyukur dan bersabar dalam berkarya. Pagi tadi ketiga putri kami bangun bersamaan. Si sulung (3 tahun 3 bulan) sembari mengusap matanya, mengulum senyum untukku. Hayo mbaa…mana do’anya? Sejurus kemudian mulut mungilnya mengucap do’a bangun tidur. Dan si kembar (2 tahun) meringik dengan mata masih kiyip-kiyip memohon sekiranya aku memberikan ASI untuk mereka. Namun segera kualihkan dengan hal lain sehingga mereka terlupa dengan keinginannya. Ya, sepekan ini mereka berdua memasuki masa penyapihan. Proses panjang yang kucoba sealamiah mungkin. Selembut yang bisa kulakukan. Dengan sounding, dengan kesepakatan dan kedisiplinan. Ah, Nak… serasa cepat sekali waktu berlalu…

Empat tahun silam, siapalah daku, gadis kampung yang langsung nikah selepas masa magang selama 10 bulan sejak diwisuda. Mendapat banyak pertanyaan dari keluarga mengapa siapa bagaimana bisa. Dan dengan ridlo Allah serta kepercayaan orang tua, maka kami tekadkan untuk memilih jalur halal dengan pernikahan di usiaku 22 tahun dan suami saat itu 23 tahun. Menikah muda menjadi pilihan kami dan tanpa pacaran. Tak lama kemudian Allah karuniakan sebenih janin di rahimku. Dalam kondisi serba prihatin dengan sisa uang magang yang tidak seberapa dan masa penempatan selepas magang (kami berdua kuliah kedinasan dan setelah magang 11 bulan kami ditempatkan di bumi Minang Sumatera Barat). Si sulung adalah guru kami. Si sulung adalah sarana kami belajar. Si sulung adalah putri yang selalu kami rindukan. Semenjak hamil, rindu kami membuncah untuk menimang seorang anak. Pun setelah lahir adiknya yang ternyata kembar, si sulung tetap kami rindukan dengan segala kelincahan dan kelucuannya. Athifah Syauqiyatu Wardah. Putri yang penuh kasih sayang yang selalu kami rindukan dan berwajah kemerahan selaksa mawar. Do’a yang tersemat dalam namanya memang Allah kabulkan bahwa si sulung sangat mencintai adik-adiknya dan kulitnya yang putih membuat dirinya nampak seperti Wardah-mawar yang kemerahan-. Alhamdulillah ‘ala kullihal… Semoga Allah memberikannya keistiqomahan dalam belajar dan menghafal alqur’an.

Tak hanya Athifah, si kembar… Asiyah dan Ashilah… Kalau dikenang kembali masa awal setelah kelahiran mereka, hanya syukur yang dapat terucap. Tanpa campur tangan-Nya, semua kisah kami serasa mustahil. Si kembar lahir di usia kandungan 37 pekan dan berat badan mereka hanya 2,3 dan 2,5 kg. Asiyah sempat muntah berwarna coklat di malam pertama kelahirannya. Selanjutnya dirawat di inkubator. Sekotak berdua. Dan di hari ketiga terpaksa kami bawa pulang karena tidak ada tanggapan signifikan oleh dokter dan keyakinan suami bahwa kedua putrinya sebenarnya sehat tapi kenapa seolah ditahan di rumah sakit. Dengan modal lampu hangat di kamar dan dikondisikan untuk tetap hangat sehingga mereka tidak kedinginan juga pemberian ASI konsisten 2 jam sekali. Alhamdulillah keluarga mendukung untuk ASI eksklusif sehingga 2 dus susu formula yang dibawakan oleh suster tidak kami berikan ke si kembar. Malahan untuk minum ibunya dengan dicampur kopi. Hehehe… Dunia per-ASI-an kami (aku dan si kembar) adalah kisah terromantis yang pernah kualami. Sebelum mereka lahir, aku beli bantal menyusui tandem. Namun saat dipraktekkan dengan si kembar, mereka malah cenderung muntah saat menyusu bersama dengan bantal. Mungkin karena masih kecil dan belum mahir mengontrol minumnya. Percobaan berbagai kemungkinan dengan menyusui tandem kami lakukan. Sampai akhirnya mendapat posisi puwenak dengan cara aku posisi setengah push-up dan mereka pakai bantal agak tinggi sehingga mengurangi kemungkinan tersedak. Enam bulan terasa laaamaaa sekali. Sembari kami menyempurnakan ASI selama 2 tahun untuk si sulung yang saat adik-adiknya lahir dia berusia 15 bulan. Saat itu Allah yang Maha Kaya menganugerahkan ASI yang mencukupi untuk ketiga putri kami. Walaupun Athifah minum ASI melalui botol.

Hari demi hari kami lalui dengan debar khawatir bagaimana tumbuh kembang anak-anakku ini. Ya, mereka kembar, tapi Allah berikan keistimewaan masing-masing. Setiap perkembangannya pun berbeda. Dari sisi motorik, Ashilah lebih tangkas daripada sang kakak kembar. Namun, untuk bicara Asiyah lebih cerewet. Meskipun kami harus menunggu selama 2 tahun sampai mereka dapat memanggil kami dengan kata “Abiii… Ummiiii”.

Pada akhirnya, hanya syukur Alhamdulillah yang terucap dengan segala perjuangan yang telah, sedang dan akan kami lalui. Apapun itu, selama kita berserah hanya pada Allah maka akan diberikan jalan keluar dari setiap masalah kita. Terimakasih ya tiga bidadari Ummi. Terimakasih membuat Ummi merasa berharga. Terimakasih untuk setiap celoteh, rengekan, ciuman dan pelukan hangat kalian. Kini sampai Allah kehendaki nafas ini berhenti maka mari Nak, kita belajar dan mengajarkan pada dunia bahwa Islam itu Indah dan jangan berhenti berkarya. Genggam Al Qur’an dalam hati dan lakukan apa yang diperintahkan Allah melaluinya. Semoga Allah meridloi kalian untuk dapat menjadi muslimah tangguh dan bermanfaat bagi umat.

#Bitread
#EmakPintar

Rizki minalloh

Tika… apa mimpi itu masih ada? Ya… sangat banyak… masih membara…

Dan sejak pertama kukecup tangannya, maka dari sana mimpi2 itu semakin bergelora. Kadang asa itu membuncah dan beliau tersenyum sembari meng-aamiin-kannya. Namun ada kalanya realita tak seindah bayangan. Dan beliau pun tetap tersenyum dan mengalirlah do’a kebaikan dr mulutnya.
Rizki minalloh Ummi… yakin dan ikhtiar. Cukup. Sisanya biar Alloh Ya Ghonii Ya Mujiib yang akan mencukupkannya.
Fabiayyi alaairobbikuma tukadziban… sungguh hamba lemah dan tanpa ridloMu, pastilah kami tergolong orang merugi. Ya Robb karna kasihMu-lah Engkau jadikan beliau imamku. Melaluinya, Engkau jauhkan kami dr riba, Engkau titipkan para mujahidah tangguh. Alhamdulillah. Syukron y Mas…
Rasa-rasanya blog ini penuh dg syukur dan kekagumanku kepadamu. 4 tahun dengan 3 putri, di tahun ini pula kau hadiahkan banyak hal untuk kami. Calon rumah di dunia (dan semoga sampai syurga), tiket haji (walau masih antri), dan yang utama adalah ilmu qonaah yang Mas ajarkan dengan kelembutan dan langsung praktik tanpa banyak teori.
Jika semua ini mendekatkan kami padaMu maka ridloilah ya Robb…
Robbi anzilni munzalaa mubaroka wa anta khoiirul munziliin…
Robbana hablanaa min azwajina wadzuriyatina qurrota a’yun waj’alna lilmuttaqinaa imaama…
Robbi inni lima anzalta ilayya min khoiriin faqiir…
Robbi habli minashsholihiiin…
Aamiim Ya Mujib Ya Ghonii…

#Malam ahad, malam sebelum pergi dauroh, smg Alloh ridlo..

#selalu susah tidur kalau mau pergi jauh sama anak2,padahal cuma ke Solok

#smg anak2 sehat dan nyaman

#DM  setelah terakhir di kampus tercinta jd panitia skrg jd peserta

#bismillah… ditahan dulu mimpi besar itu… smg Alloh ridlo,someday… insyaaAlloh

Sepatah rindu untuknya

Melati,begitu panggilannya… meski beribu harap dinisbatkan melalui namanya oleh kedua orang tua, dia tetaplah sosok hamba dengan sekian kekurangannya. Sebagaimana keluhnya sore itu, tentang rindunya dan cintanya…

Apa yang kutangkap adalah bulir cinta sehingga dia tersungkur menangis dihadapanku. Sosok yang dirindunya berjarak tak hanya tempat tapi hati. Sosok yang dirindunya sangat ingin ia peluk sebagaimana seyogyanya. Namun jarak “hati” ini masih belum ia dapati cara untuk merengkuhnya. Untuk belajar bersama,merenda kenangan infah sebagaimana mestinya.

Melati… oh melati…

Yakinlah meski banyak alpa dan cacatmu tapi semoga wangimu dapat ia hirup dipekatnya hari2 yang membersamai sosok yang kau rindu.

Tanpa banyak kata… hanya doa untuk kalian. Semoga Alloh mempertemukan Melati dengan sosok tersebut dalam naungan ridlo Alloh dan indahnya skenerioNya…

#Repost:Kujejaki Idealnya Pernikahan, Kurasakan Keberkahan Didalamnya

Menikah menjadi sebuah peristiwa yang sakral, ia abadi, pasangan dunia kekasih di akhirat. Dalam kitab suci umat Islam, akad nikah disebut dengan kalimat mitsaqon gholidzo (perjanjian yang agung/berat). Mitsaqon Gholidzo disebut tiga kali dalam al qur’an, yaitu perjanjian Alloh dengan para rosul ulul azmi, perjanjian Alloh dengan bani Isroil dan yang ketiga pernikahan. Ketiganya ialah perjanjian yang kokoh, perjanjian yang berat, perjanjian yang agung. Suatu janji untuk bersama memurnikan ketaatan & kepatuhan pada-Nya semata. Sebuah komitmen untuk menegakkan kalimat-Nya. Suatu janji dan komitmen yang akan ditukar dengan kemenangan di dunia dan/atau hak huni surga-Nya di akhirat kelak.

Berbekal dengan pemahaman tersebut, di usia 20 tahun (sekitar 6 tahun yang lalu) saya dan mungkin beberapa sahabat, juga mendambakan sebuah pernikahan yang ideal. Ideal dari calon, usia, proses dan hasil. Karena pernikahan bukan sarana coba-coba tapi jembatan untuk terbentuknya generasi Robbani. Betul, tidak? Alangkah arifnya jika faktor ideal tersebut dinisbatkan untuk diri sendiri bukan orang lain. Misal, menikah dengan calon yang ideal, bukan berarti kita mencari atau menanti pasangan yang sabar, putih, mancung, sholih/sholihah dan sebagainya. Tetapi, bagaimana kita sendiri bisa disebut calon ideal dengan kriteria pengharapan kita.

Dari keempat kriteria idealnya pernikahan, satu yang menarik bagi saya yaitu ideal dari sisi usia. Kata-kata kejar target atau bahkan kemudaan dan sejenisnya menjadi lekat dengan pertanyaan “kapan nikah” bagi saya. Ya, saya saat itu (sekitar 6 tahun yang lalu) berharap pernikahan berlangsung di usia 22 tahun. Dan Allah meridloinya. Tentu bukan sekedar pengharapan atau target bagi sebagian orang. 22 tahun bagi kehidupan saya merupakan waktu yang ideal. Kenapa? Karena saat itu pada umumnya wanita sudah mencapai gelar sarjananya. Bukan untuk berbangga kepada si calon ya. Setidaknya sudah ada modal ilmu. Walaupun saat itu jurusan saya jauh dari kalimat parenting. Kehidupan kuliah sekaligus berorganisasi dan mengajar privat saat itu membawa saya bertemu dan belajar mengenai hakikat pernikahan. Dari sana mata saya terbuka, bahwa usia bukanlah faktor utama kelanggengan atau keharmonisan rumah tangga. Ternyata banyak pasangan muda dengan bekal ilmu yang memadahi mereka membuktikan eksistensi diri bahwa menikah itu memberdayakan diri, melejitkan prestasi. Tapi ada juga, dengan emosi sesaat, pernikahan dini pun terjadi dan berakhir tragis. Disisi lain, ada wanita dengan usia yang “mumpuni” katakanlah sudah kepala tiga. Dengan kedewasaannya, membimbing dan belajar bersama dengan pasangannya yang terpaut 3-5 tahun lebih muda dan mereka nampak bahagia di usia pernikahan menjelang sewindu.

Jadi, usia berapakah idealnya seseorang menikah? Jawabnya bukanlah kata benda yang menunjuk ke angka. Tapi jawabnya adalah sebuah keinsyafan diri. Menanya sang hati nurani. Sudahkah siapkah ia dengan status barunya kelak? Kesiapan mental bukan pula datang secara tiba-tiba. Ia ada karena ilmu. Ia merasuk di sanubari karena kita paham akan niatnya untuk menikah. Sedari sekarang catat dan tuliskan di atas kertas, niat Anda untuk menikah dan BOLD-kan target kesiapan mental terhadap diri Anda. Bagi saya yang rumahan dan lebih suka kondisi ramai, maka siapkah wahai diri ketika nanti sang suami mancari nafkah sedang kalian berada di tempat yang jauh dari kampung halaman. Siapkah Anda jika ternyata Tuhan meminta Anda dan pasangan untuk lebih bersabar menanti buah hati. Atau sebaliknya, siapkah Anda untuk menjadi calon “kakek/nenek muda”? Karena baru 24 tahun sudah beranak tiga. Itu hanya contoh (dan sedikit curhat). Tentunya semua butuh proses. Okey, fix. Faktor utama niat dan kesiapan psikis (mental).

Selanjutnya, pada catatan saya saat itu, menikah dengan usia ideal (harapan saya saat itu 22tahun) berarti organ tubuh kita terutama organ reproduksi dalam kondisi yang optimal. Namun lagi-lagi, harus ada effort untuk menjaga kesehatan demi kelangsungan pernikahan yang harmonis sehat lahir dan batin. Gaya hidup serta konsumsi makanan yang bergizi menjadi modal yang baik untuk menjejaki mahligai pernikahan. Pernah dengar salah satu ustazah dengan 10 putra/putri penghafal al qur’an? Beliau mempersiapkan rahimnya untuk melahirkan sekian anak dengan cara tidak mengkonsumsi junk-food. Sebuah gaya hidup yang semakin sedikit peminatnya. Selain itu, kebiasaan buruk pun harus di-rem. Termasuk didalamnya, jangan malas mandi. Ada pasangan yang berantakan gegara bau badan. Percaya-gak-percaya silakan dicoba.

Dan yang ketiga adalah mau belajar. Karena pernikahan itu sepanjang usia. Kalau bukan pembelajar sejati maka ia akan dimakan oleh kelelahan. Sementara didalamnya pernikahan membawa banyak pahala. Belajar untuk memahami. Memahami pasangan bagi yang mendahului pernikahan dengan proses pacaran, maka jangan kaget jika banyak perilaku pasangan di pasca pernikahan yang berbeda dengan pra pernikahan. Belajar mencintai (bagi yang pacaran setelah menikah). Kalau kata orang jawa, witing tresno jalaran soko kulino. Cinta datang karena biasa. Biar menjadi luar biasa maka kita harus belajar mencintainya dalam kebiasaan membersamai pasangan. Memahami cara pasangan dalam mencintai kita pun wajib dipelajari. Silakan baca referensi lain untuk hal ini. Banyak pasangan yang hanya mencintai tapi tidak paham wujud cinta dari pasangannya. Ada pasangan yang berhambur kata-kata mesra, ada yang cukup dengan bukti tanpa kata-kata. Belajar memaafkan dan meminta maaf. Seperti dalam persahabatan, ia semakin kuat dengan adanya masalah. Bukan lurus tanpa kerikil tapi yang sukses menyingkirkan kerikil dan menggantinya dengan bebungaan wangi. Belajar memasak, memijit dan mendengar. Tiga kompetensi dasar yang dapat merekatkan hubungan. Walau sekedar basa-basi, memijit menjadi sarana yang tokcer karena ada sentuhan dan belaian sayang. Memasak supaya suami betah di rumah, walau sesekali dinner atau hang-out sangat baik untuk memanjakan istri. Mendengar. Walau laki-laki jarang ada yang cerewet atau curhat duluan tanpa diminta, tapi aspek belajar mendengar ini sangat bermanfaat ketika kita menjadi orang tua. Anak akan semakin akrab dengan kita jika kita menjadi pendengar yang baik bagi mereka. Ya, belajar, belajar dan belajar. Semoga setiap usaha kita dinilai ibadah.

Akhir kalam, bahwa takdir Tuhan adalah yang terbaik, diusia berapapun kita menikah maka itulah kehendak Yang Kuasa. Tugas kita hanya memperbaiki diri dan mengulang kembali tiga hal ideal mengenai pernikahan di atas. Mengulang niat kita, memantapkan mental psikis kita, memperbaiki kebiasaan diri demi kesehatan tubuh, dan buka hati serta pikiran untuk menjadi pembelajar sejati. Semoga pernikahan kita berkah dan berakhir di syurga Firdaus-Nya. Be samara, kawan…

#Harganas2016 #NikahIdeal

Gambar

Menapak sakinah menjemput mawaddah bernaung rahmah-Nya

Tag

6 Dzulqo’dah 1433 H
Empat tahun silam….
Saat sosok itu dengan lantang menjawab ijab yang diucapkan Bapak. Duduk disebelah sosok misterius itu, kali pertama mendengar suaranya yang merdu tegas dan exclussive (soalnya kami nikah di KUA #mantenNgirit dan disuruh duduk jejeran…wkwkwk…) Setelah akad Bapak berkata tangan Ewis yang agak keringatan dan suara yang lebih lantang dari Bapak sempat membuat bapak kaget. Jujur seperti mimpi. Iya…
Kalau sekedar kenal, sama dengan teman akhwat yang lain. Aku mengenalnya dari sebuah kegiatan Wish Muharrom STIS Tahun 2007 akhir sepertinya. Saat itu masih tingkat 1 dan kami diamanahi menjadi sie Acara. Ke”gokil”an beliau sebenarnya mulai nampak saat itu. Salah satu tema acara kegiatan tersebut dinamainya ALIN yang kependekan dari Aneka Lomba Islami, Nich... Wkwkwk… Aku yang tumpul otak kanannya hanya manut saja. Sudah itu saja kenal awalnya dan semua berjalan biasa saja. Ya yang namanya komunikasi dengan lawan jenis pastinya banyak geramnya (itu aku aja kali ya…). Tapi kalau diingat-ingat lagi, selama satu kepanitiaan dalam organisasi bersama beliau, aku termasuk “dimanjakan”. Biasanya kami para akhwat akan punya konsep sendiri terlebih dahulu dan dibandingkan dengan ikhwan. ‘Lagi-lagi’ biasanyaaa lho yaa (beda tempat beda waktu beda orang bisa beda kondisi).. para ikhwan akan terima “yes”. Tapi kalau dengan beliau dan beliau menjadi “otak”nya suatu kegiatan maka kami akan diberikan draft awal dan dengan sopan beliau minta untuk dikomentari. Hihihi… Ini sudah keliatan beda. Tapi gengsi jiwa akhwat kudu berjalan. Kami pun seperti “bersaing” dalam beberapa kepanitiaan walau lebih sering menang para ikhwan sih (49 gitu lhooo). Itu saja. Kami tidak pernah sekelas walau satu jurusan. Beliau yang “ningrat” dikalangan para ikhwan 49 laksana mercusuar yang menjulang tinggi dengan pendar cahayanya namun sulit untuk menjangkaunya. Hanya sedikit yang aku ketahui tentang beliau karena memang walaupun nampak sersan beliau memang introvert. Dan setelah membersamai beliau seumur jagung ini, banyak peristiwa yang kalau dipikir2 lagi jadi bikin ber-“ooo”. Apaan sih… Yang jelas, jauhlah kualitas beliau dengan punguk bernama Tika ini.
Jazakumulloh khoiiron katsir. Kalimat yang paling tepat saat ini untuk kuucapkan pada beliau. Bukan mudah menerima anak manja bernama Ummi Tiwi (kata iffah) ini. Bukan suatu yang ringan saat Alloh mengijabah doa kami untuk diamanahi (sampai saat ini) tiga orang putri. Banyak linangan air mata, peluh dan doa beliau yang sampai pada ‘Arsy-Nya sehingga sampai detik ini Alloh senantiasa memberkahi hari-hari kami.
Saat berbagai kemudahan menghampiriku, maka mungkin ada do’a orang tua yang membuat Alloh ridlo atau justru keridloan suami yang menjangkau rahmat Alloh sehingga kami bisa melalui semua ini.
Bersama beliau, satu lagi yang baru kupahami secara langsung, bahwa jodoh itu sekufu, bukan berarti kufu dalam pikiran manusia. Tapi sekufu pada visi misi dalam memaknai cita sebuah pernikahan. Aku yang extrovert cerewet dan lebih “open” bertemu dengan yang kata Ustadz Salim “lelaki itu seperti gua”. Saat ia ada masalah bukan bercerita yang diharapkannya namun kesendirian untuk menemukan solusi. Bercerita sebagai conclusion saat binar wajah bisa menjawab segala masalah. Ya… sampai detik ini kami masih saling belajar. Banyak sekali ke-kufu-an yang kami temukan justru bukan menjelang pernikahan tapi pasca menikah. Cara menyikapi perbedaan sampai pada cara merajut impian.
Sampai Alloh hadirkan guru besar kami: Athifah Syauqiyatu Wardah, disusul dengan para mentor sejati kami yakni Asiyah Zhurayfatu Hayfa dan Ashilah Zhufayratu Fayha. Semakin hari, semakin Alloh tunjukkan bahwa keberadaan mereka adalah guru bagi kami. Kami banyak belajar dari mereka. Terutama aku. Suatu hari pernah Abuya menyeletuk, “Ummi sudah lebih sabar ya dibanding dulu kecilnya Iffah”. Langsung yang kujawab, “sabar mananya… masih suka ngomel deeleel..bla…bla…blaa…” Sebenarnya itu apresiasi suami yang melecutkan semangatku justru untuk lebih sabar dalam menemani anak-anak sesuai tuntunan Alloh. Begitulah cara beliau menyanjung dan menyemangati sang istri. Ah… Mas, Anda terlalu istimewa.
Mau sampai ber-paragraf-paragraf tentunya tak akan cukup untuk menuliskan rasa syukurku dalam membersamaimu selama 4 tahun pertama ini. Kalau seperti petuah ibu sebelum menikah dulu, 1 windu pertama adalah masa rentan. Istiqomahlah dan niatkan karena Alloh. Bahkan 1 windu saja baru separuhnya, Ya Robb… rahmati, berkahi… Semoga Alloh menguatkan azzam, cita dan cinta kita lillah…billah…to get mardlotillah until Jannah…

dalam perenungan, Lekok Dalam 6 Dzulqo’dah 1437 H

DSC03929.JPG

Dua permata jiwaku… Ibu dan Bunda… tanpa restu mereka apalah kami ini…

DSC04036.JPG

Bersama akhwat STIS

DSC04054.JPGDi Baturraden… pasca walimah masih kaku ya gayanya wkwkwk…

secara saat itu berat badanku masih nangkring di kepala 6 lhooo…

Photo-0244

Bayi cute ini sekarang sudah makin feminim…qiqiqi…

20141101_073425.jpg

3 Bayi ku…

DSC02192.JPG

Saat menemani Ummi di Bandung

20150902_100346.jpg

Sebenar2nya ubinan bersama… bersama suami…

DSC02417 (2).JPG

Syawal 1437 H

Meniti cita ke tanah suci

Siang itu antara tanggal 13-14 Juli secara tidak sengaja, aku melihat plang BRI KCP Lubuk Gadang berbeda. Setelah melihat lebih detail ternyata ada tambahan di bagian bawah tertulis: “Layanan Syariah”. Woww… allohu akbar… alhamdulillah… Lalu kusampaikan ke Abuya perihal tabungan haji beberapa waktu yang lalu. Singkat cerita suami setuju dan kami langsung konsultasi haji di hari jum’at 15 Juli. Ternyata karena masih “nebeng” dengan BRI konvensional maka pihak BRI-S mendatangkan petugas dari kantor propinsi ke kabupaten kami. Beliau yang bertugas bernama Pak Rio. Kami menyepakati pertemuan tanggal 21 Juli untuk pengurusan dari membuka tabungan haji sampai pendaftaran online siskohat oleh BRI-S. Namun karena kendala jaringan sehingga hari Jum’at 22 Juli 2016 barulah keluar nomor validasi untuk pendaftaran haji kami. Seluruh persyaratan untuk bank adalah sebagai berikut:
1. Fotokopi KTP
2. Uang pembukaan rekening tabungan haji sejumlah 50.000
3. Foto (khusus untuk haji: background putih dengan jilbab warna kontras dan foto 80% wajah) sebanyak 5 lembar 3×4 dan 1 lembar 4×6
Berdasarkan informasi Pak Rio, kami adalah kelinci percobaan program haji BRI-S Sumbar. Jadi pak Rio bersedia mengkhususkan waktu untuk membimbing kami di kabupaten. Dan karena kami sebelumnya sudah ada tabungan BRI konvensional maka uang 25.050.000 rupiah yang diperuntukkan tabungan haji ditabung dengan cara tarik-transfer. Saya tarik dari rekening BRI konvensional tanpa menerima uang secara cash dan langsung oleh operator ditransfer ke tabungan haji. Kalau jaringan lancar insyaaAlloh 1 jam cukup untuk menyelesaikan ini semua.
Setelah mendapat nomor validasi, pada hari Senin, 24 Juli kami mendatangi kemenag kabupaten Solok Selatan dengan membawa berkas:
1. Fotokopi KTP
2. Berkas validasi dari bank (termasuk bukti setoran awal 25 jt)
3. Surat keterangan sehat yang mencantumkan golongan darah
4. Foto 3×4 sejumlah 10 lembar
Proses validasi di kemenag berlangsung lancar alhamdulillah dan kami mendapat nomor porsi sekian yang keberangkatannya tahun 2034 (18 tahuuuun boooo). Semoga panjang umur sehat dan berkah selalu.

NB:Tips bagi para akhawat yang sudah mampu berhaji, menikahlah dahulu lalu mendaftar barengan ya sama suami biar lebih afdhol karena sudah ada mahrom ^__^

Senyum pagi #1

Pada dasarnya kita sebuah bangunan. Saling berbagi peran dalam kehidupan. Menata hati memantaskan diri. Supaya kelak kita dapati Alloh ridlo dengan akhir khusnul khotimah.
Sepenggal paragraf diatas memang sedang makjlebb dalam keseharian saya. Duluuu dulu sekali sewaktu awal menikah. Suami acap kali diutus dinas ke luar kota. Saya yang saat itu sedang hamil bahkan si iffah masih bayi terkadang atau malah sering ya… menangis berdua di kamar. Membayangkan diri jika dekat dengan keluarga alangkah indahnya. Pun ketika ujian2 ringan lainnya mudah sekali diri ini mendoakan hal buruk ke orang lain. Beberapa sampai terkabulkan. Astaghfirulloh… sampai pada ketika babybouse pasca si kembar lahir. Antara oengen risen tapi emosi labil di rumah. Sampai di kantor berasa tak berarti tidak meninggalkan jejak. Berasa terasing. Padahal sampai detik ini bahkan sampai ajal menjemput kita ini ya pasti beda posisi dan porsi perannya dalam kehidupan. Mau diprotes ini itu kenapa ini kenapa itu ya pasti spesial. Sampai pada sehina nyamuk atau babi atau seasing debu yang berhamburan tak kasat mata pun,mereka berperan. Setidaknya Alloh muliakan debu sebagai alat unt thoharoh. Alloh jadikan nyamuk sebagai perumpamaan Alloh jadikan babi untuk menjadi peringatan bagi manusia.
Jadilah hamba yang berperan dan qonaah Tika. Sampai kapanpun kita adalah kita bukan orang lain. Bismillah. Semangat pagi😉

Ramadhan Hari-19

24062016
Refreshing sebentar, selagi edcod dokumen… Alhamdulillah 3rd “halangan” saya yang tepat jatuh di hari ke-19 bulan Ramadhan. Sudah siap sholat Subuh dan al ma’tsurat, sebelum tilawah eh… datanglah si tamu. Di bulan Ramadhan ini alhamdulillah kami sekeluarga sehat wal afiyah. Walau sempat anak2 meler berjamaah tapi masih aktif mereka. Kegiatan kami lebih beragam di bulan Ramadhan tahun ini. Sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, alhamdulillah tahun ini abu iffah sudah istiqomah dibina dan membina. Sebelumnya beliau harus ke muaralabuh untuk dibina tapi setelah dijembatani oleh ustadz firdaus alhamdulillah beliau bisa dibina di Sangir dan sekaligus diberi amanah membina 1 kelompok gendut. Kenapa gendut? Karena seharusnya sudah bisa dipecah tapi karena keterbatasan ikhwan yang berkenan membina jadilah sementara beliau yang membina sebanyak 13 ikhwan (masih kalah sama saya yang diminta ngisi guru RA yang sebanyak 14 oang, udah kayak pengajian ibu2). Wkwkwk… Tahun ini pula kami mulai berguru dengan Ustadz Adi Hidayat via youtube😀 Kafaah beliau yang mumpuni dengan penjelasan yang detil membuat rasa penasaran kami semakin besar untuk lebih mandalami ilmu hadits. Semoga Alloh memberkahi… aamiin… Melalui kajian beliau pula, si buya mengaplikasikannya di beberapa ceramah tarawih yang meminta beliau untuk mengisi. Alhamdulillah respon jamaah positif dan beliau kembali diundang untuk mengisi sanlat di salah satu MTs di Jorong Sampu.
Lalu bagaimana dengan kami? Saya mah jaga gawang mem-pawang-i tigo putri cerdas yang semakin sholihah dan aktif. Kita absen dulu yaaa…. mbak Athifah yang akan memasuki usia ke 3 di bulan Juli, sudah bisa meminta diajak ke masjid. Tapi belum diizinkan oleh abi karena beliau belum siap dengan keaktifan iffah. Ketika beliau menanyakan “kenapa Umm?” Ya sudah saya jawab, “Karena Abi laki-laki jadi sholat wajibnya harus di masjid, mbak Iffah laki-laki atau perempuan?” Dia jawab “puan ummi..” Saya kembali bertanya, “Klo Ummi?” Ummi juga puaan… Kalo Aung? Aung laki-laki. Dan seterusnya sampai dia bisa membedakan mana perempuan dan laki-laki. Saya katakan, kalau perempuan lebih baik di kamar aja mbak Fa. Tapi boleh kok kapan-kapan kita sholat di masjid. Sudah gitu aja. Belum saya lanjutkan lebih dalam. Takutnya malah direject sama iffah. Jadi sekarang kalau adzan berkumandang, “Abi azan, sholat di majid. Abi kan laki-laki…” qiqiqiqi… Siiiip (y)
Kalau si adiak2… Jujur sedang agak bikin worried karena dibeberapa event teman2 mengatakan si kembar imut2. Awalnya saya cuekin, tapi akhirnya tergerak untuk pinjam timbangan badan di kantor. Saya cek berat mereka dan masih diangka 8-9 kg. Padahal batas toleransi 80% BB ideal di usia 20 bulan adalah 9,6. Akhirnya kami belikan mereka minyak ikan. Dan saya lupa bahwa mereka belum pernah makan obat sebelumnya. Jadi kebingungan bagaimana memasukkan kapsul minyak ikan ke mereka. Setelah saya icip dalam kapsulnya ternyata bukan gel tapi bubuk dan pahiiiit  alhasil sampai sekarang masih kami simpan di kulkas. Ikhtiar lainnya menambah asupan karbo dan lemak. Masih diupayakan makan nasi tapi perbanyak cemilan roti, keju atau es cream. Karena 3 makanan itu kesukaan mereka setelah buah-buahan.
Lanjut ke aspek komunikasi anak-anak. Fayra sekarang sudah bisa mengekspresikan kekesalannya kalau iffah iseng kepadanya. Untuk kosakata dedek Iyyo:
– Caak > Cicak
– Mamam > Minum (agak bingung awalnya, ternyata mamam itu minta minum bagi iyyo) Tapi kadang kalau minta nenen juga maammaaam
– Udah > Sudah
– Udhe > budhe
– Beeek > Kambing (embek mungkin yaaa)
Selebihnya bahasa planet. Seperti Iyya (Rayfa), mereka kesulitan mengucap vocal “i” jadi sampai sekarang belum bisa memanggil Ummi dan Abi  Kalau Iyya:
Idem, plus Uching > Kucing
– Yuuum (belum)
Untuk gigi, alhamdulillah tinggal 4 taring yang sama sekali belum ada yang tumbuh di kedua kembara ini. Belum mulai pakai sikat gigi dan hanya dibersihkan sesekali saja.
Oya, walau sudah mendekati warning speech delay, kami sangat bersyukur karena twins memiliki kepekaan tinggi dan paham jika kami beri stimulus baik melalui instruksi maupun permainan. Mereka sudah bisa menunjukkan bagian wajah dan kaki, tangan, perut, tempat pipis, tempat eek.
Hobi mereka bertiga sbulan terakhir ini adalah berlari. Ya, sampai-sampai saya berpikir apakah lari adalah kebutuhan tersendiri bagi anak2? Karena saat berlari ada tawa yang lepas ada kebahagian yang terpancar ada kelegaan yang tersirat. Karena bahagia itu murah, ia ada di hati, ada dalam kebersamaan. Yang rukun ya Naaak… Ummi sayang kalian bertiga :*
Semoga Alloh memberkahi keluarga kita semua. Mengaruniakan sakinah, mawaddah da warohmah bagi keluarga kami dan pembaca sekalian… Doakan kami istiqomah yaaa…